Breaking News:

Berita Banjarnegara Hari Ini

Kisah Gadis Pelukis Wajah Asal Penusupan Banjarnegara: Kalau Meratap Sakit Terus Bisa Makin Drop

Matanya tak berpaling, kecuali pada sebuah foto di smartphone hasil rekayasa kamera, yang akan ia duplikasi dengan cara menggambarnya.

Penulis: khoirul muzaki | Editor: deni setiawan
TRIBUN BANYUMAS/KHOIRUL MUZAKKI
Eprisa Nova Rahmawati, pelukis wajah asal Desa Panusupan, Kecamatan Penawaran, Kabupaten Banjarnegara. 

Rahma tak bisa lagi bermain dengan teman-temannya di sekolah.

Ia sempat terpukul karena kondisinya yang berubah.

Ia mulai menatap hari-hari kosong di rumah.

Kesunyian menghampiri setiap waktu.

Tapi Rahma enggan berlarut dengan kesedihan.

Masa depannya masih panjang.

Ia tak ingin jauh terpuruk.

Selalu ada harapan baginya untuk sembuh. 

Rahma mulai mengisi waktunya yang kosong dengan menggambar.

Dia mengangkat kembali pensil yang lama ia tinggal.

Rahma berhasil mengubur kesedihan dengan hobi yang menyenangkan.

"Kalau meratap terus, saya akan semakin drop."

"Saya coba bangkit untuk berkarya, sambil menunggu sembuh tiba" katanya.

Dengan kesibukan itu, hari-hari Rahma tak lagi hampa.

Di balik musibah yang menimpanya, ada hikmah yang berhasil diraihnya.

Bakatnya justru semakin terasah dan masa depannya kian terarah.

 Karya-karya Rahma mulai mendapatkan apresiasi dari orang-orang terdekat.

Bahkan, ia mulai mendapatkan pesanan lukisan dari warga.

Dari situ, anak petani itu mulai membangun kemandirian.

Bukan hanya menggambar animasi, Rahma mahir melukis berbagai objek nyata semisal sketsa wajah seorang.

Kendati karyanya sudah mendapat apresiasi dari banyak orang, Rahma tetap rendah hati.

Dia merasa karyanya masih jauh dari sempurna.

“Saya ingin orang mengapresiasi karya saya, bukan karena kondisi saya yang sakit," katanya.

Ketua Gold Pencil Indonesia, Abdul Arif mengapresiasi semangat Rahma untuk berkarya.

Di tengah keterbatasannya, anak itu mampu mengembangkan bakat serta membangun kemandirian.

Rahma, menurut dia, mestinya bersyukur.

Baca juga: Tiap Kilogram Gabah Basah Cuma Laku Rp 3.500 di Blora, Sudarwanto: Wong Tani Remuk

Baca juga: Tak Usah Galau, Dinkes Kota Semarang Mengatakan, Vaksin Sinovac Juga Ampuh Tangkal Virus Corona B117

Baca juga: Harga Cabai Masih Tinggi, Cabai Setan Rp 90 Ribu di Temanggung, Pasar Kaliwungu Kendal Rp 100 Ribu

Di usianya yang masih remaja, Rahma sudah menemukan  potensi diri untuk dikembangkan. 

Melihat karya Rahma di media sosial, ada potensi luar biasa pada diri Rahma yang tidak dimiliki banyak orang.

Karena banyak waktunya di rumah, Rahma juga punya lebih banyak kesempatan untuk berkarya. 

"Di usianya yang masih remaja, dia beruntung sudah menemukan potensi yang bisa ditekuni."

"Mungkin anak-anak seumurannya yang masih sekolah banyak yang belum bisa apa-apa, tapi dia sudah berkarya, " katanya.

Arif mengatakan, bukan mustahil karya Rahma yang tinggal di pedesaan bisa dikenal dan diapresiasi masyarakat hingga mancanegara.

Sembari terus mengasah kemampuan menggambar, Rahma bisa mengikuti berbagai kontes atau perlombaan baik di dalam negeri maupun internasional.

Dengan begitu, meski dari rumah, karyanya bisa mendunia.

Ia pun berharap Rahma tetap optimis menatap masa depannya.

Ia tak salah menekuni seni rupa.

Di situ ia tidak sekadar bisa melampiaskan hobi, namun juga membangun kemandirian ekonomi. 

Terlebih di era digital saat ini, ia bisa mempromosikan dan memasarkan karya seninya melalui media internet.

"E-commerce mendukung seniman untuk bisa menjual karyanya."

"Bisa dengan industri kreatif, pasarnya internasional," katanya. (Khoirul Muzakki)

Baca juga: Pelaku Peroleh Rp 350 Ribu dari Pria Hidung Belang, Eksploitasi Anak Bawah Umur di Pemalang

Baca juga: Disdikbud Kota Tegal Mulai Siapkan Sekolah Piloting, Rencana Terapkan KBM Tatap Muka

Baca juga: Virus Corona B117 Sempat Infeksi TKI Asal Brebes, 7 Keluarga Jalani Isolasi Mandiri

Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved