Berita Purbalingga
Pak RT Minta Pemkab Purbalingga Alihkan Haknya untuk Keluarga Atun: Rumahnya Lebih Layak Dibedah
Atun, sapaan akrabnya hanya bisa menangis saat menceritakan dirinya tidak diverifikasi untuk mendapatkan bantuan bedah rumah, padahal sangat layak.
Penulis: rahdyan trijoko pamungkas | Editor: deni setiawan
Dikatakannya, rumah yang ditempatinya itu adalah warisan orangtu.
Dia telah menempati rumahnya itu sejak kecil.
"Saya punya KTP sini (Purbalingga Lor), sertifikat tanahnya juga ada," ujar dia.
Keseharian, suaminya hanya bekerja sebagai sopir dengan penghasilan Rp 50 ribu per hari.
Sementara dirinya hanya bekerja serabutan dengan penghasilan tidak menentu.
"Anak saya tiga. Anak pertama sudah menikah, anak kedua kelas 6 SD, dan anak terakhir kelas 1 SD," jelas dia.
• Kasus Pertama di Salatiga, Pasien Covid-19 Meninggal, Pegawai Pengadilan di Kota Semarang
• Jangan Upload Foto Anak di Medsos, Rawan Dimanfaatkan Buat Tindak Kriminal, Khususnya Penipuan
• Polisi Gerebek Rumah Kos Produksi Tembakau Gorilla di Bandungan Semarang, Seusai Tangkap Pembeli
Sementara itu, Ketua RT 06 Busro menjelaskan, sekira dua minggu yang lalu petugas kelurahan mendatanginya untuk mendata kembali penerima bantuan RTLH di lingkungannya.
Pada data yang dibawa petugas kelurahan terdapat namanya.
"Awalnya petugas tanya nama warga saya dan saya tunjukkan."
"Kemudian tanya rumahnya Pak Busro dan saya jawab saya sendiri."
"Saya tanya bantuan apa, ternyata bantuan bedah rumah," jelasnya.
Setelah mengetahui hal tersebut, dia meminta agar daftar penerima bantuan dialihkan ke warganya yang bernama Sapto Ristanto.
Namun petugas kelurahan tidak bisa menyanggupi permintaa tersebut.
"Petugas itu meminta agar datang ke kantor kelurahan," kata dia.
Busro telah menghadap ke Lurah setempat agar mengubah data tersebut ke warganya yang membutuhkan.