Dokter Residen Meninggal

Polisi Periksa 34 Saksi Soal Pemerasan Dr Aulia di PPDS Undip, Termasuk Ketua Angkatan dan Bendahara

Penyidik Polda Jateng memeriksa 34 saksi terkait kasus dugaan pemerasaan kepada mahasiswa PPDS Anestesi Undip Semarang, dr Aulia Risma Lestari.

Editor: rika irawati
TRIBUNBANYUMAS/FAJAR BAHRUDDIN ACHMAD
Karangan bunga dari Fakultas Kedokteran Undip Semarang terlihat di rumah duka dr Aulia Risma Lestari di Kota Tegal, Jumat (16/8/2024). Polisi memeriksa 34 saksi terkait laporan dugaan pemerasan dan perundungan yang dilaporkan keluarga dr Aulia Risma Lestari. 

TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Polisi memeriksa 34 saksi dalam kasus dugaan pemerasan dan perundungan mahasiswa Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesi Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, dr Aulia Risma Lestari.

Saksi yang dimintai keterangan di antaranya ketua angkatan dan bendahara program studi tersebut.

Kabid Humas Polda Jawa Tengah, Komisaris Besar Artanto mengatakan, kehadiran ketua angkatan dan bendahara dinilai penting karena mengetahui banyak hal terkait alur keuangan dan dinamika internal angkatan PPDS.

"Saat ini, 34 orang saksi sudah diambil keterangan," kata Artanto, Selasa (17/9/2024), dikutip dari Kompas.com.

Selain menangani masalah dugaan pemerasan, dilaporkan pula soal dugaan perundungan.

Bahkan, Undip dan RSUP Kariadi Semarang sebagai lokasi residen, membenarkan praktik itu.

Baca juga: RSUP Kariadi Semarang Akui Ada Perundungan kepada Dokter Aulia, Pelaku Senior PPDS yang Punya Posisi

Terkait hal ini, Artanto mengatakan, kedua pihak tersebut akan membantu penyidik kepolisian melakukan pendalaman.

"Betul, pernyataan tersebut akan memudahkan proses penyelidikan yang dilakukan Polri," ujar dia.

Perundungan Fisik dan Verbal

Sebelumnya, Direktur Layanan Operasional RSUP dr Kariadi Mahabara Yang Putra mengakui adanya perundungan terhadap mahasiswa PPDS prodi anastesi Undip yang bertugas sebagai dokter residen di sana.

"Jadi, memang kami dari rumah sakit mengakui bullying ada dan sudah saatnya harus diberantas sampai akarnya," ujar pria yang akrab disapa Abba ini, saat jumpa pers di Fakultas Kedokteran Undip, Jumat (13/9/2024).

Abba membeberkan, berdasarkan pengalaman pribadinya dulu, perundungan terjadi secara fisik dan verbal.

"Misal, fisik, angkat-angkat, lalu verbal dikatain, bully cyber. Data disabotase, itu juga masuk bully. Dan non verbal misal dikucilkan tidak diberi jatah karena introvert atau beda asal, itu harusnya ada kesempatan belajar bersama tapi dikucilkan," ungkap dia.

Baca juga: Undip Akhirnya Mengaku Ada Pungutan Hingga Rp40 Juta Per Bulan kepada Mahasiswa PPDS: Untuk Nyanyi

Namun, selama menjadi direktur di RSUP Kariadi, dia mengaku memberi orientasi pada mahasiswa baru PPDS terkait pentingnya pengabdian sebagai dokter.

"Bagian saya, selalu memotivasi pengalaman adalah pengabdian. Hiduplah jadi dokter, bukan menjadi dokter supaya hidup."

"Kalau orientasinya jadi kaya maka ujungnya proses PPDS hanya akan cari hasil," kata dia.

Iuran Maksimal Rp300 Ribu

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved