Breaking News:

Berita Purbalingga

Bertahan saat Pandemi, Begini Strategi Pengrajin Stik Es Krim dari Limbah Kayu Lapis di Purbalingga

Limbah pabrik pengolahan kayu lapis di Kabupaten Purbalingga dimanfaatkan warga membuat stik es krim.

Penulis: Permata Putra Sejati | Editor: rika irawati
TRIBUNBANYUMAS/Dok Humas Kodim 0702 Purbalingga
Seorang pekerja di Purbalingga mengolah limbah pabrik pengolahan kayu lapis menjadi tusuk es krim, Selasa (13/7/2021). 

TRIBUNBANYUMAS.COM, PURBALINGGA - Keberadaan pabrik pengolahan kayu lapis di Kabupaten Purbalingga tak hanya membawa berkah bagi usia pencari kerja.

Keberadaan pabrik tersebut juga memberi dampak ekonomi bagi warga sekitar. Mereka mengolah kembali limbah yang dihasilkan pabrik tersebut menjadi barang bermanfaat untuk dijual.

Seperti yang dilakukan Yuli Handayani (46). Istri Pelda Margiyono, anggota Koramil 06/Kemangkon Kodim 0702/Purbalingga, itu mengolah limbah kayu lapis menjadi stik atau tusuk es krim.

Sudah 10 tahun dia menggeluti usaha mengolah limbah kayu lapis jadi stik es krim.

Baca juga: 11 Nakes di 2 Puskesmas di Purbalingga Positif Covid, Dinkes: Vaksinasi ke Warga Tetap Jalan

Baca juga: Digerebek saat Asyik Pesta Sabu, 4 Pria Diamankan dari Kamar Kos di Padamara Purbalingga

Baca juga: Pabrik Rambut Palsu Ditutup Paksa, Bandel Buka Selama Gerakan Purbalingga di Rumah Saja

Baca juga: Tiga Pengemudi Disuruh Balik Arah, Dilarang Masuk Purbalingga, Polisi: Mereka Positif Covid-19

Bahkan, usahanya turut membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar rumah di Desa Toyareka, Kecamatan Kemangkon, Kabupaten Purbalingga.

"Ada sekitar 400 sampai 500 orang yang bekerja dari rumah, kemudian setor hasil kerjanya kepada kami. Kami menerapkan sistem plasma, baik bahan baku, alat, dan kebutuhan lain, kami yang sediakan dan setelah jadi, kami membeli hasil pekerjaan mereka," ungkapnya kepada Tribunbanyumas.com, Rabu (14/7/2021).

Namun, wabah Covid-19 ini turut mempengaruhi usahanya. Permintaan stik es krim dari pasaran berkurang.

"Dalam sebulan, sebelum pandemi, kami dapat kirim ke pembeli yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia, 5-6 truk. Namun, saat ini, kami hanya dapat mengirim 2 truk dalam sebulan karena pesanan yang sepi," ungkapnya.

Meski begitu, Yuli mengatakan, produksi stik es krim tetap berlanjut.

Para pekerja juga saling menguatkan agar tetap bertahan di masa sulis seperti sekarang ini.

Halaman
12
Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved