Berita Banyumas

Mengintip Aktivitas Napi di Lapas Kelas II A Purwokerto, Buat Sapu Glagah Hingga Ternak Lele

Di Lapas Kelas IIA Purwokerto, warga binaan mendapat keterampilan membuat sapu glagah, berternak lele, berkebun, membuat kuliner, serta menjahit.

Penulis: Permata Putra Sejati | Editor: rika irawati
TRIBUNBANYUMAS/PERMATA PUTRA SEJATI
Warga binaan Lapas Kelas II A Purwokerto membuat sapu glagah dalam kelas keterampilan yang disediakan pihak lapas, Kamis (17/6/2021). 

TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO - Kehidupan penjara tak selalu identik dengan nuansa seram dan kejam seperti yang digambarkan dalam film-film.

Di Purwokerto, misalnya. Kehidupan warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Purwokerto jauh dari kekerasan.

Bahkan, mereka berkegiatan layaknya beberapa warga di luar lingkungan lapas.

Selain menjalankan rutinitas, mereka juga mendapat pendidikan dan pelatihan.

Di lapas ini, warga binaan mendapat keterampilan membuat sapu glagah, berternak lele, berkebun, membuat berbagai macam olahan kuliner, serta menjahit.

Baca juga: 1161 Pendonor Terima Penghargaan dari PMI Banyumas, Sabar: Saya akan Berdonor sampai Tak Bisa Lagi

Baca juga: TP PKK Banyumas Dorong Pekarangan Pangan Lestari di 2 Desa, Bantu Cegah Stunting

Baca juga: Sebagian Pegawai PN Purwokerto Akan Jalani WFH setelah 4 ASN Terkonfirmasi Positif Covid

Baca juga: 14 Nakes RS Elisabeth Purwokerto Positif Covid-19, Layanan IGD Ditutup Hingga 24 Juni 2021

Kepala Lapas Kelas II A Purwokerto Sugito mengatakan, tersedia banyak bekal keterampilan bagi narapidana yang mendapat pembinaan di lapas.

"Kami seleksi. Total, ada 70 orang di sini yang mendapat pelatihan. Diajari cara membuat sapu glagah, bikin mendoan, pecel lele, dan lainnya," katanya, Kamis (17/6/2021).

Ia menyampaikan bahan baku membuat sapu glagah diambil dari Kabupaten Purbalingga.

Setelah bahan tersebut diolah warga binaan, sapu pun bisa dipasarkan. Harganya, Rp 18 ribu per buha.

Dalam sehari, warga binaan dapat membuat sampai 50 sapu. Hasil dari penjual ini kemudian digunakan kembali sebagai modal usaha.

Sapu-sapu itu biasanya dijual kepada mitra lapas, di antaranya rumah makan, rumah sakit, atau toko-toko di sekitar Purwokerto.

Selain membuat sapu, mereka juga belajar berternak ikan lele dan gurami. Saat panen, ikan-ikan air tawar ini bisa dimanfaatkan untuk konsumsi warga binaan.

Setiap pagi dan sore, mereka, secara bergantian, memberikan makan pelet.

Saat ini, penghuni Lapas kelas IIA Purwokerto mencapai 680 orang. Padahal, lapas tersebut hanya memiliki kapasitas 448 orang.

Baca juga: Rekor! 11 Pasien Covid-19 di Pekalongan Meninggal dalam Sehari, BPBD Minta Warga Patuh Prokes

Baca juga: Pemkab Semarang Gelar Vaksinasi Covid Gratis di GOR Pandanaran Wuji, Tersedia 3.500 Dosis

Baca juga: SD di 4 Desa di Pati Jadi Tempat Karantina Terpusat, Tangani Karyawan Positif Covid PT Dua Kelinci

Baca juga: Satresnarkoba Polres Purbalingga Razia Tempat Karaoke, Lakukan Tes Urine ke Pengunjung

Meski begitu, Sugito mengatakan, pihak lapas masih bisa mengatasi kondisi tersebut.

Seorang warga binaan Lapas Kelas II A Purwokerto, Agus Setiawan, mengatakan, dirinya mengikuti kelas keterampilan membuat sapu glagah. Dalam sehari, rata-rata, dia membuat 10 sapu.

Agus yang merupakan napi teroris ini mengaku antusias mengikuti pelatihan tersebut.

Dia pun berencana memanfaatkan keterampilan usaha yang diperoleh di dalam lapas sebagai bekal menjalani hidup baru saat bebas nanti. (Tribunbanyumas/jti)

Sumber: Tribun Banyumas
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved