Jumat, 8 Mei 2026

Selamat Jalan Pak Jakob

BERITA DUKA: Jakob Oetama Pendiri Kompas Gramedia Tutup Usia

Pada 1963, bersama rekan terbaiknya, PK Ojong, Jakob Oetama menerbitkan majalah Intisari yang menjadi cikal-bakal Kompas Gramedia.

Tayang:
Editor: deni setiawan
KOMPAS/AGUS SUSANTO
Pendiri Kompas Gramedia sekaligus Pemimpin Umum Harian Kompas Jakob Oetama tutup usia pada Rabu, 9 September 2020. 

TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO - Pendiri Kompas Gramedia sekaligus Pemimpin Umum Harian Kompas, Jakob Oetama tutup usia, Rabu (9/9/2020).

Jakob meninggal dunia di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading, Jakarta pada pukul 13:05 di usia 88 tahun.

Jakob Oetama adalah jurnalis senior dan tokoh pers nasional.

DPRD Jateng Godok Raperda Lingkungan Hidup, Ini Tujuannya

Khusus Pilkada Serentak di Jateng, PDIP Yakin Gaconya di Enam Daerah Lawan Kotak Kosong

Tak Cuma di Banyumas, Dinkes Jateng Juga Dapati Kasus Happy Hypoxia di Dua Daerah Ini

Ganjar Minta Bantuan Warga, Kirim Foto ASN Pemprov Jateng Tak Gunakan Masker, TPP Bakal Dipotong

Dia lahir pada 27 September 1931 di Desa Jowahan, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Saat belia cita-citanya adalah menjadi guru seperti ayahnya.

Dia sempat mengajar di SMP Mardi Yuwana Cipanas, Sekolah Guru Bagian B (SGB) Lenteng Agung Jagakarsa, dan SMP Van Lith Jakarta.

Minatnya menulis tumbuh berkat belajar Ilmu Sejarah.

Karier Jakob Oetama di dunia jurnalistik bermula dari pekerjaan barunya sebagai redaktur majalah Penabur Jakarta.

Pada 1963, bersama rekan terbaiknya, Petrus Kanisius Ojong (PK Ojong), Jakob Oetama menerbitkan majalah Intisari yang menjadi cikal-bakal Kompas Gramedia.

Kepekaannya pada masalah manusia dan kemanusiaanlah yang kemudian menjadi spiritualitas Harian Kompas, yang terbit pertama kali pada 1965.

Hingga lebih dari setengah abad kemudian, Kompas Gramedia berkembang menjadi bisnis multi-industri.

Jakob Oetama tidak pernah melepas identitas dirinya sebagai seorang wartawan.

Baginya, wartawan adalah profesi, tetapi pengusaha karena keberuntungan.

Semasa hidup, Jakob Oetama dikenal sebagai sosok sederhana yang selalu mengutamakan kejujuran, integritas, rasa syukur, dan humanisme.

Di mata karyawan, dia dipandang sebagai pimpinan yang ‘nguwongke’ dan tidak pernah menonjolkan status atau kedudukannya.

Jakob Oetama berpegang teguh pada nilai humanisme transendental yang ditanamkan sebagai fondasi Kompas Gramedia.

Idealisme dan falsafah hidupnya telah diterapkan dalam setiap sayap bisnis Kompas Gramedia yang mengarah pada satu tujuan utama.

Yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia.

“Jakob Oetama adalah legenda."

"Jurnalis sejati yang tidak hanya meninggalkan nama baik, tetapi juga kebanggaan serta nilai-nilai kehidupan bagi Kompas Gramedia."

"Beliau sekaligus teladan dalam profesi wartawan yang turut mengukir sejarah jurnalistik bangsa Indonesia."

"Walaupun kini beliau telah tiada, nilai dan idealismenya akan tetap hidup dan abadi selamanya,” kata Corporate Communication Director Kompas Gramedia, Rusdi Amral, Rabu (9/9/2020).

Tentang Jakob Oetama

Jakob Oetama adalah lulusan Seminari Menengah St Petrus Canisius Mertoyudan.

Sambil mengajar SMP, dia mengikuti kursus B1 Ilmu Sejarah hingga lulus.

Dia kemudian melanjutkan kuliah ke Perguruan Tinggi Publisistik Jakarta dan Jurusan Ilmu Komunikasi Massa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada (UGM) hingga 1961.

Jakob Oetama menerima gelar kehormatan Doktor Honoris Causa dari UGM Yogyakarta pada 2003. (*)

28 SMP dan 109 SD Bakal Jadi Pilot Project KBM Tatap Muka di Cilacap

KBM Tatap Muka Terancam Ditunda Lagi di Banyumas, Dindik Tunggu Instruksi Tim Gugus Tugas

Bawaslu Kabupaten Purbalingga: Simpatisan Bakal Paslon Masih Banyak yang Abai Protokol Kesehatan

Kisah Didi Khomsa Asal Banjarnegara, Guru Patungan Bantu Biaya Urus Registrasi KIP Kuliah di Unnes

Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved