Berita Jawa Tengah

Ngangklang, Tradisi Pemuda Ngareanak Kendal Jelang Sahur, Keliling Kampung Sembari Bunyikan Musik

Berkeliling memainkan musik untuk membangunkan orang sahur ini ingin dijadikannya menjadi kearifan lokal yang terus dipertahankan.

Editor: deni setiawan
TRIBUN BANYUMAS/DENI SETIAWAN
Enam pemuda RW 04 Ngareanak, Kecamatan Singorojo, Kabupaten Kendal membunyikan alat musik sembari kelilingi kampung menjelang sahur, Selasa (12/5/2020) dini hari. 

Musik pertama pemuda RW 04 desa setempat yang didendangkan itu adalah lagu Jaran Goyang ciptaan Andi Bendol.

Enam pemuda RW 04 Ngareanak, Kecamatan Singorojo, Kabupaten Kendal membunyikan alat musik sembari kelilingi kampung menjelang sahur, Selasa (12/5/2020) dini hari.
Enam pemuda RW 04 Ngareanak, Kecamatan Singorojo, Kabupaten Kendal membunyikan alat musik sembari kelilingi kampung menjelang sahur, Selasa (12/5/2020) dini hari. (TRIBUN BANYUMAS/DENI SETIAWAN)

PSCS Cilacap: Jika PT LIB Potong Dana Subsidi Klub, Nasib Kami Makin Apes

Angkutan Liar Angkut Pemudik Makin Marak di Cilacap

Antisipasi Pemudik, Enam Jalur Masuk Ke Cilacap Melalui Dayeuhluhur Ditutup

Entah berapa kali lagu tersebut diperdengarkan sembari satu di antara pemuda tersebut meneriakkan “Sahur, sahur, wayahe ayo padha sahur…”

Selain Jaran Goyang, secara bergantian mereka memamerkan keahlian memainkan musik mulai dari lagu Prau Layar hingga Caping Gunung.

Apabila dihitung, keenam pemuda tersebut berjalan kaki berkeliling kampung selama satu jam atau sejauh sekira 1,5 kilometer.

Sebagai penutup, mereka memainkan satu lagu yang sama saat mengawali perjalanan.

Semula yang didengar tetabuhan alat musik pun digantikan oleh suara warga lain membangunkan sahur melalui speaker masjid maupun musala.

Demikianlah sedikit gambaran aktivitas para pemuda jelang sahur yang nyaris dilakukan tiap hari.

Suatu kegiatan yang telah menjadi tradisi setiap Ramadan oleh warga setempat.

“Membangunkan orang untuk menyiapkan hidangan santap sahur ini sudah menjadi tradisi kami.”

“Entah kapan awalnya, kami kesulitan untuk mendeteksinya. Ini spontanitas kami menjaga tradisi tiap Ramadan,” kata Taufik.

Kepada Tribunbanyumas.com, Selasa (12/5/2020), dia menerangkan, tidak ada ketentuan dalam satu kelompok musik jelang sahur ini, baik alat maupun jumlah orangnya.

“Jika ada belasan orang yang datang, kami bagi menjadi dua hingga beberapa kelompok. Rutenya pun tidak bersamaan.”

“Alat musik apapun bisa, yang penting bisa diselaraskan,” terangnya.

Bantuan Sosial Kemensos Rp 600 Ribu Sudah Cair, Simak Cara dan Syarat Warga Semarang Mengambilnya

Paling Lama Tiga Hari, Pasien Sudah Ketahui Hasil Swab di RSUD KRMT Wongsonegoro Semarang

Balap Liar di Semarang, Ratusan Pemuda Dipaksa Menuntun Motor Sejauh Dua Kilometer

Dia menyampaikan, jika dibandingkan dengan Ramadan tahun lalu, kali ini lebih banyak orangnya. Tak sekadar di akhir pekan, tetapi hampir di tiap harinya.

“Sebab, para pemuda terutama yang berstatus masih sekolah saat ini sedang ‘belajar di rumah’. Mungkin itu jadi satu faktor tersendiri,” tuturnya.

Halaman
123
Sumber: Tribun Banyumas
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved