Lipsus Pasar Wage

Jeritan Pedagang Pakaian di Pasar Wage Purwokerto yang Tersisih Karena Tren Belanja Online

Pedagang pakaian di Pasar Wage Purwokerto keluhkan sepinya pembeli akibat gempuran belanja online, sehari cuma dapat Rp20 ribu.

TRIBUN BANYUMAS/ PERMATA PUTRA SEJATI
PENJUAL PAKAIAN: Di Pasar Tradisional Pasar Wage Purwokerto, seorang pedagang Priyo (52) duduk lesu di depan lapak dagangannya, Sabtu (7/6/2025).  Para pedagang pakaian di Pasar Wage Purwokerto kian terdesak oleh tren belanja online. 

"Apa-apa sekarang online, apa-apa murah. 

Kita di pasar jadi makin sepi," kata Priyo kepada Tribunbanyumas.com, sambil menatap dagangannya. 

Kondisi serupa juga dialami pedagang lain, Lilis (50), yang sudah berjualan sejak mengikuti orangtuanya di pasar lama.

Jauh sebelum Pasar Wage berpindah ke lokasi sekarang sekitar tahun 1970-an. 

Ia mengaku penghasilannya tidak menentu. 

"Paling ada satu dua pembeli saja sehari. 

Sepi sekali sekarang," keluhnya.

Ia merasa tak mampu beradaptasi dengan sistem jualan online seperti anak-anak muda. 

"Saya tidak bisa jualan online, ndak ngerti caranya. 

Umur juga sudah segini," ucapnya.

Kemudian ada lagi Yance, pedagang lain yang sudah berjualan sejak 1980-an yang menyoroti persoalan tata letak pedagang yang semakin menyulitkan.

Ia menyebut banyak pedagang memilih berjualan di lorong pasar karena lebih mudah diakses pembeli, sehingga bagian dalam pasar justru makin sepi.

"Harusnya semua yang di lorong Pasar Wage masuk ke area dalam pasar, jadi para pembeli mau masuk ke dalam dan liat liat dagangan kami. 

Bilangnya pedagang yang di lorong, kalau dipindah ke dalam, malah gak laku," katanya.

Sebagian pedagang kini mencoba bertahan dengan mengikuti event luar pasar, seperti Sunday Morning di GOR Satria, Purwokerto

Halaman
1234
Sumber: Tribun Banyumas
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved