Lipsus Pasar Wage

Dikonsep Modern, Revitalisasi Pasar Manis Purwokerto Justru Bikin Pedagang Pakaian Tersisih dan Lesu

Penatapaan Pasar Manis Purwokerto berkonsep modern tak menjamin penjualan pedagang pakaian ramai. Penjualan mereka justru makin sepi.

Penulis: Permata Putra Sejati | Editor: rika irawati
TRIBUNBANYUMAS/PERMATA PUTRA SEJATI
TUNGGU PEMBELI - Pangkun (61), pedagang pakaian di lantai 2 Pasar Manis Purwokerto, Kabupaten Banyumas, menunggu pembeli, Senin (9/6/2025). Digitalisasi menjadi tantangan besar baginya untuk bersaing dengan pedagang di pasar online. 

TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO - Penataan Pasar Manis Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, menjadi pasar berkonsep modern nyatanya tak menjamin pedagang pakaian di pasar tersebut lebih sejahtera.

Ditempatkan di lantai 2 pasar, mereka justru merasakan penjualan kian sepi.

Selain lokasi yang dinilai kurang strategis, para pedagang harus bersaing dengan pasar online yang kini lebih ramai pembeli.

Digitalisasi memang menjadi tantangan besar bagi pedagang pasar tradisional, terutama pedagang sepuh.

Satu di antaranya, Pangkun (61), pedagang pakaian Pasar Manis Purwokerto yang sudah berjualan sejak tahun 1998. 

Ia menyaksikan langsung perubahan wajah Pasar Manis dari pasar tradisional hingga menjadi gedung berlantai dua seperti sekarang. 

Namun, wajah modern tidak serta merta membawa keuntungan.

"Bahkan ya, Mas, di hari yang biasanya ramai (pembeli) seperti Jumat, Sabtu, dan Minggu, sekarang malah sepi." 

"Pengaruhnya ya karena orang sekarang beli baju bisa lewat online, jadi jarang yang datang ke pasar," kata Pangkun ditemui Tribunbanyumas.com, di kios lantai 2 Pasar Manis Purwokerto, Senin (9/6/2025).

Baca juga: Derita Pedagang Pakaian Pasar Wage: Digerus Pasar Online hingga Gaptek. Apa Solusi Pemkab Banyumas?

Dulu, Pangkun bisa meraih omzet harian hingga Rp700 ribu. 

Kini, pendapatan hariannya hanya berkisar Rp150 ribu hingga Rp200 ribu. 

Padahal, ia masih harus membiayai pendidikan anaknya yang tengah menempuh bangku kuliah.

"Sekarang, paling cuma buka sampai jam 12 siang karena kalau sudah siang makin sepi, Mas."

"Kadang mikir juga, kuat sampai kapan," imbuhnya.

Pangkun mengaku tidak mampu mengikuti perkembangan zaman yang serba digital ketika ditanya soal kemungkinan jualan lewat platform online.

Halaman
123
Sumber: Tribun Banyumas
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved