Teror Virus Corona

Happy Hypoxia Berbahaya bagi Pasien Covid saat Isoman, Ini Saran Direktur RSUD Loekmono Hadi Kudus

Direktur RSUD Loekmono Hadi Kudus Abdul Aziz Achyar mengatakan, banyak pasien Covid-19 mengalami gejala happy hypoxia.

Penulis: Rifqi Gozali | Editor: rika irawati
TRIBUNBANYUMAS/RIFQI GOZALI
Seorang tenaga medis tengah memeriksa pasien di Instalasi Gawat Darurat RSUD Loekmono Hadi Kudus, Jumat (25/6/2021). 

TRIBUNBANYUMAS.COM, KUDUS - Direktur RSUD Loekmono Hadi Kudus Abdul Aziz Achyar mengatakan, banyak pasien Covid-19 mengalami gejala happy hypoxia.

Banyak dari mereka yang tertolong tetapi ada pula yang meninggal dunia karenanya.

Menurut Aziz, pasien bergejala happy hypoxia tidak tertolong karena terlambat mendapatkan penanganan medis.

Biasanya, mereka mengalami happy hypoxia selama di rumah dan dibawa ke rumah sakit sudah dalam kondisi acute respiratory distress syndrome (ARDS) atau gangguan pernapasan berat.

Baca juga: Tepergok di Halaman Rumah Pak RT, Warga Undaan Kudus Ini Didapati Bawa Sejumlah Kutang

Baca juga: Kudus Berkategori Hitam, Mobilitas Warga Disebut Masih Tinggi, Ini Indikatornya Menurut Pemerintah

Baca juga: Anggota Polres Kudus Alami Luka Bacok di Punggung, Jadi Korban Pembegalan saat Lewati Desa Dersalam

Baca juga: Ngeyel Layani Makan di Tempat saat PPKM Darurat, Pedagang Jahe Rempah di Kudus Didenda Rp 400 Ribu

Memang, gejala ini tidak terlihat kentara sebelumnya. Yang terinfeksi merasa baik-baik saja tetapi kadar oksigen dalam tubuhnya menurun.

"Biasanya, kondisi di rumah baik-baik saja karena tidak terlihat. Masuk (rumah sakit) sudah ARDS dan badai sitokin (respons imun tubuh berlebihan akibat infeksi). Biasanya, terlambatnya di situ," ujar Aziz, Minggu (11/7/2021).

Biasanya, pasien yang mengalami kondisi tersebut langsung dirawat di ICU dan dibantu ventilator, begitu sampai di rumah sakit.

"Kalau sudah begitu, masuk ICU, kami beri ventilator. Banyak juga yang selamat," ujar Aziz.

Kata Aziz, kasus yang biasa dia temui dalam happy hypoxia yakni orang yang terinfeksi dalam kondisi sadar dan tidak menunjukkan gejala sama sekali.

Akan tetapi, saturasi oksigen berada di angka di bawah 90 persen atau bahkan sampai 60 persen. Padahal, normalnya, yakni 95 persen atau lebih.

Dilansir dari Kompas.com, kondisi saturasi oksigen dalam tubuh rendah bisa mengakibatkan sesak napas, terengah-engah, sakit kepala, dan gelisah.

"Kasus seperti itu banyak ditemukan di Kudus. Asal timing (penanganan) tepat, rata-rata tidak masalah," kata dia.

Baca juga: Inspiratif! Warga Ambarawa Ini Kirim 30 Bungkus Roti setiap Hari ke Pasien Covid yang Jalani Isoman

Baca juga: Kalahkan Brazil 1-0, Argentina Raih Gelar Copa America 2020. Penantian Messi 16 Tahun Terbayar

Baca juga: Berikut Manfaat Buah dan Sayur Berdasarkan Warna: Perlu Rotasi untuk Penuhi Nutrisi Tubuh

Baca juga: Mulai 12 Juli, Vaksinasi Covid Berbayar Tersedia di Kimia Farma. Berikut Harga dan Lokasinya

Kata Aziz, pernah ada pasien Covid-19 mengalami happy hypoxia dengan saturasi oksigen hanya 62 persen dapat tertolong.

Kenapa kadar oksigen dalam tubuh tidak terdeteksi? Kata Aziz hal ini terjadi karena gangguan saraf hingga akhirnya otak tidak bisa mendeteksi.

"Berarti, ada gangguan saraf advance kan. Begini logikanya, pasti ada sambungan yang terputus antara daerah paru-paru dengan otak. Karena otak tidak bisa mendeteksi," jelas dia.

Untuk itu, agar tidak sampai fatal saat terjadi happy hypoxia, Aziz menyarankan, selalu rutin mengecek saturasi oksigen. Caranya, menggunakan oksimeter.

"Kalau saran saya, cek saturasi. Itu yang paling murah dan mudah," ujarnya. (*)

Sumber: Tribun Banyumas
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved