Breaking News:

Berita Blora

Begini Cara Mudah Cek Makanan Mengandung Bahan Kimia Berbahaya: Waspadai Bintik Warna di Makanan

Bagaimana masyarakat yang tidak memiliki alat sorot sinar UV bisa mengetahui kandungan makanan tersebut berbahaya?

TRIBUNBANYUMAS/RIFQI GOZALI
Petugas Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Semarang menguji sampel makanan mengandung zat kimia berbahaya, di Pasar Jepon Blora, Senin (3/5/2021). 

TRIBUNBANYUMAS.COM, BLORA - Dinas Kesehatan Blora dan Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Semarang menemukan kerupuk yang dijual di Pasar Jepon Blora, mengandung bahan berbahaya berupa Rhodamin B. Warga pun diminta hati-hati dalam memilih makanan.

Menurut Pengawas Farmasi dan Makanan BBPOM Semarang Agung Suprianto, makanan yang mengandung Rhodamin B atau pewarna tekstil, bisa diketahui secara kentara ketika disorot menggunakan sinar UV biru.

Warna pada makanan tersebut akan terpendar saat disorot sinar UV biru. Trik ini bisa digunakan untuk makanan berwarna merah.

Lantas, bagaimana masyarakat yang tidak memiliki alat sorot sinar UV bisa mengetahui kandungan makanan tersebut berbahaya?

Baca juga: Petugas Temukan Kerupuk Mengandung Bahan Kimia Berbahaya di Pasar Jepon Blora, Curiga dari Warna

Baca juga: Kasus Dugaan Korupsi Dana Kunker DPRD Blora, Masih Tunggu Petunjuk Kejati Jateng

Baca juga: 15 Kendaraan Disuruh Putar Balik ke Bojonegoro, Sehari di Pos Ketapang Cepu Blora

Baca juga: Pos Penyekatan Wilayah Perbatasan Diaktifkan Mulai Hari Ini, Contoh di Cepu Blora

Agung mengatakan, warga harus melihat secara detail makanan tersebut. Biasanya, makanan yang mengandung pewarna berbahaya terdapat bintik-bintik.

"Kenapa terdapat bintik karena warna tersebut tidak bisa menyatu atau homogen. Kalau pakai pewarna makanan, homogen," ujar Agung, di sela melakukan pengecekan makanan di Pasar Jepon, Blora, Senin (3/5/2021).

Kemudian, bahan berbahaya lain yang acap kali dicampurkan ke dalam makanan adalah formalin.

Menurut Agung, makanan yang dicampur formalin memiliki tekstur lebih kenyal dari makanan sejenis. Misalnya, kata Agung, tahu atau bakso yang dicampur formalin, tidak pecah saat dijatuhkan.

"Biasanya, kalau kita jatuhkan dari jarak dekat pun (tahu atau bakso) akan pecah," ujarnya.

Memang, efek samping dari konsumsi makanan yang mengandung bahan berbahaya tersebut tidak langsung tampak.

Baca juga: Ingin Gelar Salat Idulfitri, Masjid dan Musala di Banyumas Harus Kantongi Izin dari Satgas Covid-19

Baca juga: Jelang Lebaran, 144 Porter di 7 Stasiun Terima Bantuan Sembako dari PT KAI Daop 5 Purwokerto

Baca juga: Geram Lihat Ribuan Warga Berkerumun di Alun-alun saat Malam, Bupati Kudus Ancam Siapkan Water Cannon

Baca juga: Investor Turki Minati Berinvestasi di Jawa Tengah, Dubes Iqbal: Termasuk Handycraft Laku Keras

Akan tetapi, Agung menjelaskan, dampak jangka panjangnya dapat mengganggu kesehatan. Di antaranya, dampak karsinogenik yang menyebabkan tumbuhnya sel kanker di dalam tubuh.

"Kami berpikir, untuk generasi kita, 10 tahun 15 tahun ke depan, kalau dari usia SD sampai bertahun-tahun mengonsumsi, ini kan berbahaya," kata Agung. (*)

Penulis: Rifqi Gozali
Editor: rika irawati
Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved