Berita Banyumas

Nasib Angkot Oranye Purwokerto, Kalah Saing dari Angkutan Daring Hingga Rencana Pengoperasian BRT

Dulu, angkutan ini begitu ditunggu. Tapi, saat ini, hampir tak ada penumpang yang merindukannya.

Penulis: Permata Putra Sejati | Editor: rika irawati
TRIBUNBANYUMAS.COM/PERMATA PUTRA SEJATI
Sejumlah angkutan kota (angkot) terparkir menunggu penumpang di kompleks pertokoan Kebondalem, Purwokerto, Sabtu (21/11/2020). 

TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO - Berpuluh tahun, Yanto (45), menjadi sopir angkutan kota (angkot) di Kota Satria Purwokerto, Jawa Tengah.

Ditengah teriknya panas, Senin (23/11/2020), dia masih terdiam lesu menunggu penumpang di dekat Terminal Bus Bulupitu.

Dari sekian masa, mungkin ini adalah titik terendah kejayaan angkot oranye di kota tersebut.

Orang Purwokerto menyebut angkot yang melayani trayek di dalam kota Purwokerto itu angkot oranye, sesuai warnanya.

Di bagian atas kepala angkot oranye biasanya terpasang papan penunjuk trayek, terutama, ruas jalan yang dilalui.

Baca juga: Kemenhub Ingin BRT Banyumas Buka Koridor ke Purbalingga dan Cilacap

Baca juga: Video Banyumas dapat Bantuan Bus BRT dari Kemenhub

Baca juga: Siap-siap, Tim Gabungan Gelar Razia Penertiban Pakir di Purwokerto Mulai Hari Ini Hingga Desember

Baca juga: Kasus Covid-19 Capai 25 Per Hari, Pemkab Banyumas Larang Hajatan dan Tutup Tempat Wisata

Dulu, angkutan ini begitu ditunggu. Tapi, saat ini, hampir tak ada penumpang yang merindukannya.

Selain memilih menggunakan kendaraan pribadi, warga lebih suka naik angkutan berbasis aplikasi dalam jaringan (daring).

"Dulu, kami sampai menolak penumpang karena penuh. Sekarang, boro-boro ada penumpang. Saya berharap, setiap hari ada saja yang masih ingin naik angkot," ucapnya kepada Tribunbanyumas.com, Senin.

Bekerja sebagai sopir angkot adalah satu-satu harapannya menyambung hidup.

"Sekarang, bawa uang Rp 50 ribu juga sudah bersyukur. Apalagi, saat ini sedang pandemi jadi tambah susah lagi," katanya.

Terkait kondisi ini, Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Banyumas, Agus Nur Hadi, sempat mendatangi para sopir angkot di Purwokerto.

Kepada Agus, mereka ngudarasa dan menyampaikan keluhan terkait sepinya penumpang sehingga pendapatan hanya 30 persen.

"Jadi, kalau dulu setor Rp 60 ribu, sekarang hanya Rp 25 ribu per hari," jelas Agus.

Agus dan petugas Dinas Perhubungan sengaja mengadakan survey lapangan guna mengetahui kondisi sopir angkot di masa sekarang. Kegiatan ini sebagai persiapan penerapan layanan bus rapid yang bakal dioperasikan.

Baca juga: Pemkab Karanganyar Siap Gelar Sekolah Tatap Muka Awal 2021, Tetap Pertimbangkan Izin Orangtua

Baca juga: KPU Kabupaten Pekalongan Mulai Sortir dan Lipat 739.726 Lembar Surat Suara

Baca juga: Tarik Wisatawan di Libur Akhir Tahun, Tempat Wisata di Blora Bakal Tampilkan Kesenian Barongan

Baca juga: Buruan, Selesaikan Pelatihan Sebelum 15 Desember Jika Tak Ingin Kepesertaan Kartu Prakerja Dicabut

Agar mendapat penumpang, sopir angkot kini tak lagi berpedoman pada jalur trayek yang telah ditetapkan.

"Angkot oranye, sekarang beroperasi sudah seperti angkutan online, grab atau gocar. Tidak tergantung trayek tapi tergantung penumpang mau kemana," jelas Agus.

Agus menjelaskan, jika sopir angkot tetap menggunakan sistem trayek maka mereka akan sulit mendapatkan penumpang.

"Yang jelas, akan kami carikan solusi supaya tidak terimbas dari program Buy The Service (BTS) yang nanti juga akan diterapkan. Karena kondisinya, banyak juga angkot yang tidak jalan dan berangkat," ujarnya. (Tribunbanyumas/jti)

Sumber: Tribun Banyumas
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved