Berita Banyumas

Cerita Siswa MTs Pakis Banyumas Belajar Daring: Cari Sinyal di Atas Bukit, Gantian Ponsel saat Ujian

Resa bukan hanya kesulitan mengerjakan soal ujian Matematika tetapi juga harus meredam emosi saat sinyal internet tiba-tiba hilang.

Penulis: Permata Putra Sejati | Editor: rika irawati
TRIBUNBANYUMAS.COM/PERMATA PUTRA SEJATI
Relawan membantu siswa MTs Pakis, Grumbul Pesawahan, Desa Gununglurah, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, yang sedang mengerjakan ujian online di Bukit Dekimati, Kamis (24/9/2020). Mereka terpaksa mendaki bukit lantaran hanya di wilayah ini ada sinyal internet sementara sekolah tatap muka belum diizinkan. 

Di atas Bukit Dekimati, mereka mencoba pecahkan ilmu pasti. Karena, hanya di bukit itulah mereka mendapatkan sinyal di wilayah tersebut.

Begitulah perjuangan anak-anak di tengah pandemi. Tidak mengeluh dan selalu mencari akal.

Ujian tengah semester di hutan pun rela mereka lakukan. Termasuk, berbagi gawai untuk mengerjakan soal.

Ujian dibagi tiga kelompok di tiga titik, tergantung kedekatan rumah siswa.

Di MTs Pakis sendiri, ada 20 siswa yang mengikuti ujian. Rinciannya, 6 siswa kelas 7, 4 siswa kelas 8, dan 10 siswa kelas 9.

Ujian online ini mau tidak mau harus dilakukan karena pembelajaran tatap muka belum diperbolehkan.

Sinyal hilang menjadi kendala utama. Untungnya, mereka tidak sendiri. Ada relawan atau pengasuh yang ikhlas membantu anak-anak Desa Gunung Lurah itu.

Relawan, guru, sekaligus pengasuh anak-anak itu adalah Isrodin (40).

Takut Ketahuan Istri, Dukun di Boyolali Bunuh Bayi Hasil Hubungan Gelap dengan Adik Ipar

Hasil Undian Tata Letak Pasangan Calon di Pilkada Semarang: Hendi-Ita di Posisi Kiri Kertas Suara

23 Pegawai Kemenag Banyumas Jalani Tes Swab Seusai Satu Pegawai Meninggal Akibat Covid-19

Polres Purbalingga Tangkap Pemakai dan Pengedar Sabu di Bajong Bukateja

Tidak semua anak-anak Gunung Lurah miliki smartphone. Kalau pun membawa mandiri, mereka membawa milik orangtua.

Tak heran, ponsel milik Isrodin sering juga dipakai anka-anak yang tak memiliki gawai.

Biasanya, ujian dimulai pukul 07.30 WIB sampai Zuhur.

"Sumber sinyal paling kuat di sini. Biasanya, kami mencari dulu lokasi yang ada sinyal dan ditemukannya di bukit ini," kata Isrodin.

Cobaan lain menghampiri mereka, mana kala cuaca tak lagi bersahabat. Jika gerimis menyambangi, mereka segera mengembangkan payung.

Namun, jika hujan lebat, mereka memilih turun bukit dan kembali ke rumah masing-masing.

Inilah wujud mereka menyesuaikan diri dengan aturan baru yang tercipta karena pandemi.

Sayangnya, aturan itu sulit bagi mereka yang tinggal jauh dari jangkauan sinyal. (Tribunbanyumas/jti)

Sumber: Tribun Banyumas
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved