Breaking News:

Berita Cilacap

Khawatir Abrasi Meluas, Warga Winong Bangun Talud Darurat dari Sak Berisi Pasir

"Abrasi diakibatkan adanya penambahan breakwater di sisi barat dan timur kanal intake sepanjang 525 meter," jelasnya, Senin (24/8/2020).

TRIBUNBANYUMAS/Ist
Warga Winong, Desa Slarang, Kecamatan Kesugihan, Cilacap,mengisi karung-karung dengan pasir untuk dibuat talud penahan abrasi di wilayah tersebut, Minggu (23/8/2020). 

TRIBUNBANYUMAS.COM, CILACAP - Forum Masyarakat Winong Peduli Lingkungan (FMWPL) membangun talud tradisional secara mandiri guna mencegah abrasi di bibir pantai dekat pemukiman warga di Desa Slarang, Kecamatan Kesugihan, Cilacap, meluas. Kegiatan tersebut berlangsung Minggu (23/8/2020).

Riyanto, perwakilan warga yang juga anggota FMWPL, mengatakan, abrasi mulai dirasakan warga sejak pembangunan kanal intake serta maintenance dredging yang dilakukan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap berbahan bakar Batubara (PLTU-B) milik PT Sumber Segara Primadaya (S2P).

"Abrasi diakibatkan adanya penambahan breakwater di sisi barat dan timur kanal intake sepanjang 525 meter," jelasnya, Senin (24/8/2020).

Menurutnya, penambahan tersebut bertujuan melindungi kolam pelabuhan dan untuk mengurangi proses sedimentasi di mulut kanal intake.

Bus Tabrak Tronton di Tol Cipali, Empat Orang Tewas dan 11 Lainnya Luka-luka

Diterpa Isu Pecah dan Pembelotan Pengurus, Ini Sikap PPP Purbalingga

Pemkab Banyumas Waspadai Klaster Baru Covid-19 dari Perkantoran

Suka Wisata Adrenalin? Coba Jalur Offroad di Tambak dan Sumpiuh Rekomendasi Bupati Banyumas Ini

Dalam dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) PLTU Cilacap disebutkan bahwa dampak ini dikategorikan dampak besar negatif penting.

Menurut Riyanto, setahun yang lalu, garis pantai terjauh adalah sekitar 500 meter dari permukiman warga. Namun, saat ini, berubah drastis.

Bahkan, lapangan bola yang dulunya besar, sekarang hanya bisa dipakai separuhnya saja.

Melihat hal ini, warga pun khawatir air laut bakal merusak lingkungan dan pemukiman.

Sebenarnya, Riyanto mengatakan, warga telah mencoba berkomunikasi dengan para pemangku kebijakan. Namun, tak ada respon signifikan.

Akhirnya, mereka berinisiatif membuat tanggul secara mandiri, menggunakan sak berisi pasir.

"Harapannya, pemerintah memberikan perhatian dan mengupayakan kontribusi lanjutan terhadap penanggulangan abrasi yang benar-benar mengancam," harap Riyanto.

2 Anggota DPRD Banyumas Positif Covid-19 sepulang Kunjungan Dinas dari Jawa Barat

78 Pemilik Usaha Terima Zakat Usaha Produktif dari Baznas Banjarnegara

Tak Tahu Kegiatan Menaker Ida Fauziyah di Wilayahnya, Pemkab Purbalingga Merasa Ditinggal

Seorang Pejabat Pemkab Kendal Meninggal saat Dirawat di RS karena Terpapar Covid-19

Sementara, pendamping warga dari LBH Yogyakarta, Danang, menyampaikan, masyarakat telah melakukan penanggulangan, bukan berarti masalah dan tanggungjawab pemerintah selesai.

"Pemerintah perlu terlibat dan memastikan pertanggungjawaban PLTU melaksanakan komitmennya yang telah tertuang di dokumen lingkungan yang ada. Karena pemerintah sebagai pihak yang wajib melakukan pengawasan serta sebagai pemangku kewajiban pemenuhan hak warga negaranya," ungkapnya.

Oleh karena itu. Forum Masyarakat Winong Peduli Lingkungan mendesak pemerintah daerah menyelesaikan persoalan dampak-dampak lingkungan yang disebabkan oleh PLTU PT S2P Cilacap. (Tribunbanyumas/jti)

Penulis: Permata Putra Sejati
Editor: rika irawati
Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved