Berita Nasional

Kesal Keluar Rp 1 Juta untuk Rapid Test di Jember, Warganet Memaki Dokter Gunakan Sebutan Binatang

MI mengaku mengeluarkan uang sebesar Rp 650.000 untuk menjalani rapid test Covid-19 di salah satu rumah sakit.

Editor: deni setiawan
ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya
ILUSTRASI - Tenaga medis menunjukkan alat bernama rapid test untuk virus corona (Covid-19). 

TRIBUNBANYUMAS.COM, JEMBER - Kasus intimidasi atau perbuatan tidak menyenangkan terhadap petugas kesehatan (medis) kembali terjadi di Indonesia.

Kasus terkini terjadi di Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur.

Akibatnya, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jember melaporkan akun Facebook berinisial MI ke polisi.

KA Kedungsapur Kembali Beroperasi Mulai Senin, Dari Stasiun Poncol Semarang Dua Kali Sehari

Tagihan Listrik Juni Bisa Dicicil Tiga Bulan Berikutnya, Berikut Skema yang Diberikan PLN

CEK FAKTA - Grafik Puncak Covid-19 di Indonesia, Jawa Timur Jadi Penyumbang Tertinggi

PKM Kota Semarang Jilid III Mulai Besok Senin, Hendi: Kalau Warga Masih Bandel Terpaksa PSBB

Laporan itu terkait unggahan akun tersebut yang menghina dan memaki dokter dengan sebutan binatang.

Awalnya, akun Facebook MI membuat unggahan di salah satu grup Facebook masyarakat Jember.

Akun itu memprotes biaya rapid test virus corona baru atau Covid-19 yang mahal.

MI mengaku mengeluarkan uang sebesar Rp 650.000 untuk menjalani rapid test Covid-19 di salah satu rumah sakit.

"Padahal, bagi saya uang segitu sudah sangat besar lur."

"Kalau enggak karena ingin merantau, enggak bakal saya buat tes begitu," kata MI dalam unggahannya.

MI juga menumpahkan kekeselannya dengan menceritakan jumlah uang yang harus dikeluarkan untuk merantau.

Selain biaya rapid test, ia mengeluarkan Rp 350.000 untuk ongkos menuju Bali. 

"Belum kerja sudah habis Rp 1 juta, Lur."

"Berarti selama 10 hari kerja kita buat ganti ongkos sama rapid test," kata MI.

MI menutup unggahan itu dengan memaki pemerintah dan dokter dengan kata-kata binatang.

Ketua IDI Jember, Alfi Yudisianto mengatakan, unggahan salah satu warga itu menyakitkan perasaan para dokter yang berjuang di garis depan.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved