Teror Virus Corona
Jangan Berpikir New Normal Dulu, Epidemiolog: Cakupan Tes Covid-19 di Masyarakat Masih Rendah
Jangan Berpikir New Normal Dulu, Epidemiolog: Cakupan Tes Covid-19 di Masyarakat Masih Rendah
"Pada daerah-daerah yang cakupan testing-nya masih rendah apalagi dengan positive rate-nya yang masih tinggi, jangan berpikir dulu masalah untuk memberlakukan new normal pada lokasi-lokasi publik."
TRIBUNBANYUMAS.COM, JAKARTA - Grafik penambahan kasus baru Covid-19 dari hari ke hari di Indonesia terus meningkat, belum terlihat adanya penurunan yang signifikan hingga akhir Mei ini.
Angka kasus Covid-19 hingga Sabtu (30/5/2020), telah mencapai 25.773 kasus, dengan 557 kasus baru.
Meskipun demikian, Pemerintah Indonesia saat ini tengah menggodok wacana untuk memberlakukan new normal atau pola hidup normal baru kepada masyarakat di tengah pandemi Covid-19 yang belum mereda.
Pemerintah sudah merencanakan akan kembali memberlakukan kegiatan sehari-hari seperti biasanya dengan pola normal yang baru.
• Cara Mudah Cek Kepesertaan Bansos Covid-19 Melalui Aplikasi, Simak Petunjuk Berikut Ini
• Begini Syarat Penerapan New Normal Menurut WHO dan Bappenas, Daerah Mana Sudah Siap?
• Tito Atur Protokol di Mal hingga Salon Kecantikan, Simak Pedoman New Normal dari Mendagri
• Kemenag Terbitkan Aturan New Normal, Rumah Ibadah Wajib Punya Surat Bebas Covid-19
Tes masih rendah
Melihat kondisi ini, ahli epidemiologi Griffith University Australia Dicky Budiman menjelaskan ada banyak pertimbangan yang harus diperhatikan dengan seksama sebelum mengambil keputusan memberlakukan new normal.
"Pada daerah-daerah yang cakupan testing-nya masih rendah apalagi dengan positive rate-nya yang masih tinggi, jangan berpikir dulu masalah untuk memberlakukan new normal pada lokasi-lokasi publik," kata Dicky dalam sebuah keterangan video yang diterima Kompas.com, Sabtu (29/5/2020).
Menurut Dicky, uji tes Covid-19 yang masih rendah itu mengindikasikan belum diketahuinya secara persis derajat keparahan atau kondisi suatu wilayah kaitannya dengan persebaran virus corona.
Untuk itu, jika suatu wilayah masih memiliki cakupan pengujian yang rendah, disarankan untuk meningkatkannya terlebih dahulu, baru kemudian mempersiapkan kebijakan new normal.
"New normal apalagi (diberlakukan di) tempat wisata, apalagi yang sifatnya melibatkan banyak masyarakat di sebuah komunitas, harus betul-betul dipertimbangkan dengan matang, karena kondisi tiap daerah berbeda dan tidak bisa hanya mengandalkan satu indikator saja," ujar Dicky.
Jumlah uji ideal
Beberapa daerah di Indonesia, misalnya Jawa Barat dan Aceh, disebut Dicky masih memiliki tingkat pengujian yang rendah.
Lalu apa indikator tinggi, rendah, dan idealnya jumlah tes di satu wilayah?
"Idealnya, 1 persen dari total populasi di wilayah tersebut dilakukan tes, katakan lah kalau penduduknya 10 juta berarti kurang lebih 100.000 orang yang dites, total," sebut Dicky.