Selasa, 12 Mei 2026

Berita Banyumas

Mencekam, Mahasiswa Banyumas di Iran Lihat Serangan Drone Hingga Internet Diputus

Situasi semakin berubah ketika pada 1 Maret 2026 muncul pengumuman mengenai imbauan evakuasi atau mengungsi secara mandiri.

Tayang: | Diperbarui:
Tribun Banyumas
MAHASISWA DI IRAN - Dokumentasi foto Ahmad Hukam Mujtaba (25), mahasiswa asal Desa Sirau, Kecamatan Kemranjen, Kabupaten Banyumas, yang saat ini tengah melanjutkan studi magister sejarah di Iran, Rabu (11/3/2026). Ia adalah alumni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP). 


Meski berada di tengah situasi konflik, Hukam mengaku tidak berada di lokasi yang menjadi sasaran langsung serangan.


Ia mengatakan saat itu kondisi di kampus masih relatif aman.


Namun ia tetap merasakan ketegangan karena beberapa serangan mulai mengarah ke wilayah kota.


Target serangan, menurutnya, lebih banyak menyasar fasilitas pemerintahan seperti kantor pemerintahan daerah, dinas, hingga kementerian.


Ia juga sempat menyaksikan langsung keberadaan drone di langit Tehran.


"Di sana saya melihat drone-drone beroperasi. 


Pemandangan seperti itu memang terlihat," ujarnya.


Mahasiswa Indonesia di Iran


Hukam menjelaskan di Kota Tehran terdapat sekitar 10 mahasiswa Indonesia.


Sementara secara keseluruhan, jumlah mahasiswa Indonesia di Iran diperkirakan mencapai sekitar 150 orang.


Namun tidak semua memilih untuk kembali ke Indonesia.


Sebagian masih bertahan untuk melanjutkan studi di sana.


Sementara itu, sekitar 22 orang memutuskan pulang ke Indonesia. 


"Mereka berasal dari berbagai kampus dan juga termasuk diaspora Indonesia," ujarnya. 


Menurutnya, pihak KBRI memberikan pilihan kepada warga negara Indonesia di Iran.


Bagi yang ingin pulang dipersilakan mengikuti proses kepulangan, sementara yang memilih tetap tinggal juga tetap mendapat pengawasan serta pemantauan dari pihak kedutaan.


Kebutuhan Harian Aman


Di tengah situasi konflik, Hukam mengatakan kondisi kebutuhan sehari-hari masyarakat masih relatif aman.


Ketersediaan bahan makanan dan sembako tidak mengalami masalah berarti.


Hal yang paling terasa justru adalah keterbatasan akses internet yang membuat komunikasi dan informasi menjadi sangat terbatas.


Saat ini Hukam masih memiliki sisa waktu studi sekitar satu tahun lagi dari total program magister selama dua tahun.


Namun kelanjutan perkuliahannya masih menunggu keputusan dari pihak kampus.


Apabila situasi memungkinkan, skema pembelajaran kemungkinan akan dilakukan secara daring.


Namun jika kondisi belum memungkinkan, ada kemungkinan studi akan terhenti sementara hingga situasi kembali normal.


Saat ini ia sudah sampai di Indonesia, tepatnya di Jakarta dan akan melanjutkan perjalanan pulang ke Banyumas. 


Meski berada dalam situasi yang penuh ketidakpastian, Hukam tetap berharap konflik segera mereda sehingga ia dapat kembali melanjutkan studinya dan menyelesaikan program magister yang telah ia jalani di Iran. (jti) 

Sumber: Tribun Banyumas
Halaman 4/4
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved