Berita Banyumas
Mencekam, Mahasiswa Banyumas di Iran Lihat Serangan Drone Hingga Internet Diputus
Situasi semakin berubah ketika pada 1 Maret 2026 muncul pengumuman mengenai imbauan evakuasi atau mengungsi secara mandiri.
Penulis: Permata Putra Sejati | Editor: khoirul muzaki
TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO- Konflik perang yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat tidak hanya mengguncang geopolitik dunia, tetapi juga menyentuh kehidupan mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh studi di Negeri Persia.
Tribunbanyumas.com melaporkan berita eksklusif terkait itu dengan mewawancarai Ahmad Hukam Mujtaba (25), mahasiswa asal Desa Sirau, Kecamatan Kemranjen, Kabupaten Banyumas, yang saat ini tengah melanjutkan studi magister sejarah di Iran.
Alumni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) tahun 2024 itu kini tercatat sebagai mahasiswa S2 jurusan Sejarah di Ahlul-Bayt International University (ABU) di Tehran, Iran.
Ia berangkat ke Iran sejak Ramadan tahun 2025 lalu melalui program beasiswa dari pemerintah Iran.
Keputusan melanjutkan studi ke Iran bukanlah pilihan yang tiba-tiba.
Hukam sapaan akrabnya mengaku telah lama memiliki ketertarikan terhadap sejarah bangsa Persia, terutama karena kekayaan peradaban yang telah bertahan lebih dari 2.500 tahun.
Menurutnya, Iran menyimpan begitu banyak arsip sejarah serta peninggalan peradaban yang luar biasa.
Hal itu ia temukan ketika menelusuri berbagai sumber di laman resmi kampus dan referensi sejarah lainnya sebelum memutuskan mendaftar beasiswa.
Selain itu, ia juga terinspirasi oleh tokoh-tokoh ilmuwan besar dari Persia yang memiliki pengaruh besar dalam perkembangan ilmu pengetahuan dunia.
Nama-nama seperti Ibnu Sina dan Al-Khawarizmi menjadi bagian dari warisan intelektual yang membuatnya semakin tertarik mendalami sejarah bangsa Persia.
"Bangsa Persia memiliki peradaban yang sangat panjang, lebih dari 2.500 tahun berdiri.
Baca juga: Tidak Ada THR, Bupati Batang Pastikan Gaji ke 14 ASN Cair sebelum Lebaran
Itu yang membuat saya tertarik untuk belajar langsung di sana," ujarnya saat dihubungi Tribunbanyumas.com, Rabu (11/3/2026).
Belajar Sejarah di Jantung Persia
Setibanya di Iran, Hukam tinggal di pusat Kota Tehran.
Ia menggambarkan pengalaman pertamanya datang ke Iran sebagai momen yang menyenangkan sekaligus membanggakan.
Ia merasa senang dan bahagia karena diterima sebagai mahasiswa di salah satu Universitas di Iran yang memiliki fokus kuat pada kajian sejarah dan peradaban Islam.
Menurutnya, proses pembelajaran di kampus berlangsung menarik.
Para dosen aktif dalam mengajar serta sangat terbuka terhadap mahasiswa asing.
Lingkungan akademik di kampus juga menurutnya sangat mendukung bagi mahasiswa yang ingin mendalami sejarah dan kebudayaan Iran.
Selain belajar di kelas, ia juga banyak mengunjungi museum serta melihat langsung berbagai peninggalan sejarah yang berkaitan dengan perjalanan panjang Islam di Iran.
Namun, pengalaman tinggal di negara baru tentu tidak lepas dari tantangan.
Hukam mengaku sempat mengalami culture shock, terutama terkait perbedaan bahasa dan budaya antara Indonesia dan Iran.
Butuh waktu baginya untuk beradaptasi dengan lingkungan baru tersebut.
Meski begitu, ia menilai kondisi keamanan di Iran relatif baik saat pertama kali ia tiba disana.
Proses kedatangannya berjalan lancar, termasuk saat melewati pemeriksaan imigrasi.
Ia mengatakan aturan di Iran memang cukup ketat karena negara tersebut menerapkan nilai-nilai keislaman dalam berbagai aspek kehidupan.
Lihat Perang dari Dekat
Situasi berubah ketika konflik mulai memanas antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat.
Hukam mengingat dengan jelas momen ketika kabar serangan pertama muncul.
Saat itu, ia sedang berkumpul bersama para pelajar lain di Iran.
Peristiwa tersebut terjadi pada Jumat sore, bertepatan dengan 2 Ramadan atau sekitar 20 Februari 2026.
"Hari itu aktivitas kampus masih berjalan seperti biasa. Bahkan ada kegiatan yang digelar di lingkungan kampus.
Namun keesokan harinya, pada Sabtu bertepatan dengan 2 Ramadan, serangan mulai terjadi," katanya.
Saat itu belum ada instruksi khusus yang diterima mahasiswa Indonesia.
Mereka hanya mendapat imbauan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk meningkatkan kewaspadaan.
Imbauan tersebut juga berkaitan dengan situasi yang sebelumnya sempat memanas pada Januari, ketika terjadi aksi damai di Iran.
Situasi semakin berubah ketika pada 1 Maret 2026 muncul pengumuman mengenai imbauan evakuasi atau mengungsi secara mandiri.
"Pada saat yang sama, jaringan internet di Iran mulai dimatikan.
Kondisi ini membuat komunikasi menjadi sangat terbatas.
Komunikasi memang terbatas. Waktu perang tidak bisa berkomunikasi bebas. Sebelum internet mati kami sudah menyampaikan kepada orang tua bahwa komunikasi akan terganggu," kata Hukam.
Ia mengatakan komunikasi yang tersisa saat itu hanya melalui telepon seluler biasa.
Namun jaringan tersebut pun tidak bisa digunakan untuk berkomunikasi ke luar negeri.
Meski begitu, orangtuanya di Indonesia telah memahami situasi tersebut.
Menurutnya, tahun sebelumnya Iran juga sempat mengalami konflik sehingga keluarganya sudah cukup memahami kemungkinan gangguan komunikasi jika situasi memanas kembali.
Baca juga: Pakar Unsoed : Pengadilan Solusi Kasus PHK eks Karyawan Griya Satria Purwokerto
Melihat Drone dan Target Serangan
Meski berada di tengah situasi konflik, Hukam mengaku tidak berada di lokasi yang menjadi sasaran langsung serangan.
Ia mengatakan saat itu kondisi di kampus masih relatif aman.
Namun ia tetap merasakan ketegangan karena beberapa serangan mulai mengarah ke wilayah kota.
Target serangan, menurutnya, lebih banyak menyasar fasilitas pemerintahan seperti kantor pemerintahan daerah, dinas, hingga kementerian.
Ia juga sempat menyaksikan langsung keberadaan drone di langit Tehran.
"Di sana saya melihat drone-drone beroperasi.
Pemandangan seperti itu memang terlihat," ujarnya.
Mahasiswa Indonesia di Iran
Hukam menjelaskan di Kota Tehran terdapat sekitar 10 mahasiswa Indonesia.
Sementara secara keseluruhan, jumlah mahasiswa Indonesia di Iran diperkirakan mencapai sekitar 150 orang.
Namun tidak semua memilih untuk kembali ke Indonesia.
Sebagian masih bertahan untuk melanjutkan studi di sana.
Sementara itu, sekitar 22 orang memutuskan pulang ke Indonesia.
"Mereka berasal dari berbagai kampus dan juga termasuk diaspora Indonesia," ujarnya.
Menurutnya, pihak KBRI memberikan pilihan kepada warga negara Indonesia di Iran.
Bagi yang ingin pulang dipersilakan mengikuti proses kepulangan, sementara yang memilih tetap tinggal juga tetap mendapat pengawasan serta pemantauan dari pihak kedutaan.
Kebutuhan Harian Aman
Di tengah situasi konflik, Hukam mengatakan kondisi kebutuhan sehari-hari masyarakat masih relatif aman.
Ketersediaan bahan makanan dan sembako tidak mengalami masalah berarti.
Hal yang paling terasa justru adalah keterbatasan akses internet yang membuat komunikasi dan informasi menjadi sangat terbatas.
Saat ini Hukam masih memiliki sisa waktu studi sekitar satu tahun lagi dari total program magister selama dua tahun.
Namun kelanjutan perkuliahannya masih menunggu keputusan dari pihak kampus.
Apabila situasi memungkinkan, skema pembelajaran kemungkinan akan dilakukan secara daring.
Namun jika kondisi belum memungkinkan, ada kemungkinan studi akan terhenti sementara hingga situasi kembali normal.
Saat ini ia sudah sampai di Indonesia, tepatnya di Jakarta dan akan melanjutkan perjalanan pulang ke Banyumas.
Meski berada dalam situasi yang penuh ketidakpastian, Hukam tetap berharap konflik segera mereda sehingga ia dapat kembali melanjutkan studinya dan menyelesaikan program magister yang telah ia jalani di Iran. (jti)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/mahasiswa-indonesia-di-iran.jpg)