Berita Jateng

148 Warga Jateng Meninggal akibat DBD, Kasus Terbanyak Januari-April Ditemukan di Banyumas

Sebanyak 148 warga Jateng meninggal dunia akibat DBD sepanjang Januari-April 2024. Kasus terbanyak ditemukan di Banyumas.

Editor: rika irawati
TRIBUN BANYUMAS/SAIFUL MA'SUM
Petugas melakukan fogging di beberapa titik rawan yang ada di Kecamatan Kendal Kota, Kabupaten Kendal, Kamis (23/7/2020). Sebanyak 148 warga Jateng meninggal dunia akibat DBD sepanjang Januari-April 2024. 

TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Sebanyak 148 warga Jawa Tengah (Jateng) meninggal dunia akibat demam berdarah dengue (DBD) sepanjang Januari hingga April 2024.

Secara keseluruhan, di periode tersebut, kasus DBD di Jateng mencapai 5.700 kasus.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jateng Irma Makiah mengatakan, kasus terbanyak ditemukan di Kabupaten Banyumas, mencapai 489 kasus.

Disusul Kabupaten Grobogan, sebanyak 441 kasus, dan Kabupaten Klaten, dengan total 427 kasus.

Berikutnya, Kabupaten Boyolali, mencatat 343 kasus, dan Kabupaten Kendal, sebanyak 341 kasus.

Baca juga: DBD di Banyumas Mengganas, 5 Penderita Meninggal. Ini Imbauan Dinkes

Sementara, Kota Tegal memiliki jumlah kasus paling sedikit, yakni 4 kasus.

"Minggu ini belum update, terakhir sampai April, ada 5.700 kasus di Jateng. Kabupaten atau kota yang agak tinggi kasusnya, ya Banyumas, Klaten (termasuk tinggi)," jelas Irma melalui sambungan telepon, Kamis (16/5/2024).

Menurur Irma, dari total 148 pasien DBD yang meninggal, didominasi usia anak.

Berbeda dengan jumlah total kasus, angka kematian terbanyak akibat DBD dicatatkan Klaten yang mencapai 22 orang.

Kemudian, Jepara tercatat 21 kasus kematian, Kabupaten Kendal ada 17 pasien yang meninggal, Kabupaten Grobogan mencatatkan kasus kematian 13 orang, dan Kabupaten Blora ada 9 orang meninggal akibat DBD.

"Lebih banyak anak-anak (yang mendominasi kasus kematian karena DBD), yang meninggal 148 (pasien)," beber Irma.

Irma menyebut, kasus DBD di Jateng terbanyak menyerang anak-anak umur 5-14 tahun.

Baca juga: Pasien DBD di RSUD Sunan Kalijaga Demak Meningkat sejak Awal Tahun 2024, Didominasi Anak-anak

Menurutnya, hal ini terjadi karena daya tahan tubuh atau imunitas anak-anak lebih rentan ketimbang orang dewasa. Terutama, saat musim pancaroba atau peralihan musim seperti sekarang ini.

"Pancaroba, kalau Jawa Tengah kita kewaspadaan terhadap demam berdarah. Kasusnya masih naik turun, kadang-kadang masih hujan panas, hujan panas seperti itu, kemudian flu, influenza, pneumonia (radang paru-paru) juga ISPA, kasusnya juga naik," katanya.

Karena itu, Irma mengajak warga menjaga lingkungan dan menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS),

Irma juga meminta masyarakat rutin menguras, menutup, dan mengubur (3M) tempat-tempat penampungan air untuk pemberantasan sarang nyamuk (PSN).

Sementara, untuk penanganan DBD anak, Irma mengimbau orangtua tak lengah saat demam anak turun.

Menurutnya masa itu justru adalah masa kristis DBD.

"Harus aware, walaupun sudah periksa di rumah, lihat kondisi perkembangan anaknya. Kalau tiba-tiba tangannya dingin, kelihatan lemes, beda dari biasanya, segera bawa ke fasilitas kesehatan," kata Irma. (*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Hingga April 2024, 5.700 Warga Jateng Terserang DBD dan 148 Meninggal".

Baca juga: Gaji 2 Bulan dan THR Belum Dibayar, 1500 Karyawan 3 Pabrik Tekstil di Karanganyar Ngadu ke Dewan

Baca juga: Stroke Center Segera Dibuka di RSUD Dr Loekmono Hadi Kudus, Dilengkapi Dokter Bedah Syaraf

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved