Berita Kudus

6 Anak di Kudus Meninggal Akibat DBD, Dinkes Minta Orangtua Meningkatkan Kewaspadaan

Dinkes Kudus meminta orangtua mewaspadai serangan DBD. Sepanjang Januari-Agustus 2022, tercatat ada enam anak meniggal karena DBD.

Penulis: Rezanda Akbar D | Editor: rika irawati
FREEPIK.COM
Ilustrasi nyamuk demam berdarah. Enam anak-anak di Kudus meninggal akibat demam berdarah dengue (DBD), sepanjang Januari-Agustus 2022. 

TRIBUNBANYUMAS.COM, KUDUS - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kudus meminta orangtua mewaspadai serangan demam berdarah dengue (DBD).

Dari 386 kasus DBD di Kudus, 6 di antaranya meninggal dunia. Mereka adalah pasien anak-anak.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kudus, Darsono, mengungkapkan, secara keseluruhan, kasus DBD di Kudus thaun ini naik dua kali lipat dibanding tahun lalu.

Pada 2021 tercatat ada 175 kasus. Sementara, pada Januari-Agustus 2022, ada 386 kasus DBD.

"Tahun lalu, jumlah kasus DBD 175 orang dan yang meninggal 3 orang. Untuk tahun ini, Januari sampai Agustus, jumlah kasus 386 dan kasus meninggal enam," jelasnya.

Baca juga: Hujan Es Warnai Festival Ampyang Maulid di Kudus, Warga Berlarian saat Gunungan akan Diarak

Baca juga: Tidak Ada Kepastian Liga 3 Jateng Bergulir, Pemain Persiku Kudus Diliburkan

Darsono mengatakan, enam korban meninggal adalah anak-anak berumur di bawah 15 tahun.

Dia memperkirakan, ini terjadi karena anak-anak lebih rentan terserang penyakit karena kekuatan imun tak sekuat orang dewasa.

"Anak-anak ini kan aktivitasnya banyak, kalau dia di sekolah, bisa saja terjangkit di sekolah. Apalagi, anak-anak kalau bermain kan terkadang kita tidak tahu," jelasnya.

Untuk menekan angka DBD pada anak-anak, Dinkes Kudus berencana menggalakkan sosialisasi ke sekolah-sekolah, satu di antaranya lewat lomba kebersihan sekolah.

Baca juga: 1.300 Atlet Bulu Tangkis Siap Ikut Seleksi PB Djarum Kudus, Datang dari Sumatera hingga NTB

Baca juga: Niat Umrah Penyanyi Asal Kudus Buyar! Uang yang Diinvestasikan ke Lelang Arisan Dibawa Kabur Bandar

Hal ini untuk mematik semangat masyarakat terhadap pencegahan DBD di lingkungan pendidikan.

"Pencagahan menggunakan abatesasi itu penting, serta kami terus menggencarkan edukasi dan sosialisasi terkait 3M (menutup, menguras, mengubur) plus," terangnya.

Selain itu, pihaknya juga menyediakan reagen DBD di seluruh puskesmas di Kudus untuk mendeteksi penyakit DBD.

"Jadi, kalau ada yang demam, bisa dites. Untuk mendeteksi DBD sedini mungkin, hanya dengan 20 menit saja bisa terdeteksi penyakit DBD," ujarnya. (*)

Baca juga: Nostalgia di Balai Paras Purwokerto Banyumas, Pernah Cukur 985 Orang Sehari Sebelum Tren Barber Shop

Baca juga: Sementara Masih Belajar di Ruko, SMK Negeri 1 Karangjambu Purbalingga Bakal Direlokasi

Baca juga: Penundaan Kompetisi Liga 2, Nusantara United Tetap Geber Latihan dan Lakoni Uji Coba

Baca juga: Remaja Asal Punggelan Banjarnegara Dilarikan ke Rumah Sakit, Tertimpa Longsor bersama Keluarga

Sumber: Tribun Banyumas
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved