Berita Banyumas
Kisah Relawan ODGJ Banyumas: Keluar Ongkos untuk Evakuasi, Senang Bisa Pertemukan dengan Keluarga
Badan penuh daki, rambut kusut, baju compang-camping, hingga bau yang menyengat membuat orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) makin dijauhi.
Penulis: Permata Putra Sejati | Editor: rika irawati
TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO - Badan penuh daki, rambut kusut, baju compang-camping, hingga bau yang menyengat membuat orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) makin dijauhi.
Kondisi fisik yang tak terawat, apalagi berkeliaran di jalan, membuat mereka sering dipandang sebelah mata.
Bahkan, tak jarang dianggap sampah dan mengganggu kenyamanan.
Padahal, mereka juga manusia yang membutuhkan pertolongan dan perhatian dari sekeliling agar dapat sembuh.
Keprihatinan ini yang mendorong sekelompok orang di Banyumas, memutuskan menjadi relawan bagi ODGJ.
Mereka pun membuat komunitas bernama Relawan ODGJ Banyumas.
Diinisiasi Sapto Adi Wibowo (31) dan dimotori Emilia Prabasari (52) serta Teguh Purwoko (34), Relawan ODGJ Banyumas bergerak mengevakuasi dan menyelamatkan ODGJ yang ditemukan di Banyumas.
Sejak 2017, Sapto memang punya kebiasaan membantu ODGJ yang ditemukan di pinggir jalan.
Tak segan, dia memandikan mereka dan memberi pakaian layak.
"Sebenarnya, sejak 2017, saya di Kebumen memang ada kebiasaan, setiap ada orang gila di jalan, saya bantu mandikan, gantikan baju, supaya lebih baik."
"Tapi, waktu itu, belum sampai hingga mempertemukan dengan keluarganya," cerita Sapto kepada Tribunbanyumas.com, Kamis (23/6/2022).
Baca juga: Tangis Haru Keluarga Bertemu Siti di Banyumas, Pencarian 16 Tahun Membuahkan Hasil
Baca juga: Hilang 5 Tahun dan Keluarga Sudah Gelar Tahlil, Pria Asal Garut Ini Ditemukan Selamat di Banyumas
Namun, pada 2020, pria yang sering dipanggil Saprol di kalangan teman-temannya itu menolong dua ODGJ bertemu kembali dengan keluarga.
Saat itu, dia sengaja menyebarkan informasi terkait temuan ODGJ ke media sosial Facebook.
Dengan harapan, keluarga yang kehilangan, mengetahui keberadaan ODGJ tersebut.
Respon warganet pun baik. Dari situ, Satpo selalu menginformasikan temuan ODGJ ke media sosial.
Dia merasa puas dan senang bisa mempertemukan kembali ODGJ dengan keluarga.
Selain menolong ODGJ di jalanan, Satpo mulai berpikir ikut merawat dan menyembuhkan pasien yang memiliki gangguan jiwa.
Pada Desember 2021, dia membentuk forum ODGJ Banyumas yang terdaftar di notaris untuk dilegalkan.
Relawan yang terpanggil merawat pasien gangguan jiwa dan telantar juga ikut terjun di Rumah Singgah milik Dinsos Banyumas.
"Kami membersihkan, memandikan, bahkan kami bawa ke rumah sakit agar ditangani secara medis."
"Oleh karena itu, kami bekerjasama dengan Dinas Kesehatan, Dindukcapil, dan Rumah Sakit Banyumas, serta yang lain, agar ikut membantu," katanya.
Sedih Kesadaran Warga akan Kesehatan Mental Masih Rendah
Namun demikian, ada rasa sedih yang terlintas dalam benaknya ketika niat tulus menolong para ODGJ justru mendapat respon kurang baik dari keluarga pasien yang mengalami gangguan jiwa.
"Yang menyedihkan, justru ketika sudah sampai ketemu keluarganya tapi pihak keluarga tidak mengharapkan dan menyerahkan kembali pada kami."
"Di situ, kami sedih karena bagaimanapun, mereka itu bagian dari keluarga," terangnya.
Baca juga: Polisi Tangkap Pelaku Pencurian Motor di Ajibarang Banyumas saat Jual Motor secara Daring
Baca juga: Nasi Rames Sorjem Katem Kini Digandrungi Anak Muda Banyumas, Berada di Dekat Stasiun Purwokerto
Berdasarkan data yang mereka miliki, hampir 90 persen ODGJ yang diselamatkan, tak diterima pihak keluarga.
Sapto pun sedih lantaran kesehatan mental yang menjadi masalah utama ODGJ, belum bisa diterima baik di masyarakat umum.
Padahal, gangguan mental dapat dialami siapa saja, tak memandang latar belakang keluarga, pendidikan, atau juga gender.
Pemicunya juga beragam. Cerita dari keluarga maupun ODGJ yang mulai sembuh, kondisi mental mereka terganggu karena persoalan keluarga, percintaan, sampai kecanduan gim daring.
Karenanya, para relawan tak putus asa. Mereka terus berusaha membantu ODGJ yang ditemukan mendapat pengobatan dan terapi penyembuhan.

Dari catatannya, sejak 2022 hingga Juni 2022, Relawan ODGJ Banyumas telah menyelamatkan setidaknya 301 ODGJ.
Di antara mereka, ada yang kembali ke keluarga tetapi ada pula yang ditampung di panti rehabilitasi.
"Jujur, banyak memang aduan adanya ODGJ pada kami. Dalam sehari saja bisa 4-5 aduan,"
"Namun demikian, tidak semua kami tangani karena yang terpenting adalah perlu assesment dulu."
"Misalkan apakah ODGJ itu menganggu atau tidak, sudah berapa lama di situ, tidak cukup orang memotret dan lapor di situ ada orang gila," terangnya.
Keluar Biaya Pribadi
Soal bayaran, jangan tanya karena kerja relawan sepenuhnya berdasarkan keikhlasan dan ketulusan hati.
Bahkan, saat mengevakuasi dan membantu satu ODGJ, mereka terkadang harus iuran untuk menyewa kendaraan operasional.
"Kendalanya adalah kami tidak punya kendaraan mobil jadi kalau ada evakuasi ODGJ, kami pinjam, entah dari Dinas atau dari orang lain," kata Emilia yang juga anggota relawan.
Mereka pun tak mengeluh. Bahkan, muncul rasa senang saat ODGJ yang ditolong bahkan bisa sembuh.
"Ini adalah kepuasan tersendiri bagi kami dan tidak ada bayarannya."
"Ketika melihat orang yang hilang sudah 16 tahun bahkan ada yang habis satu rumah untuk mencari orang itu, ketika dapat kembali bertemu keluarga, rasanya senang sekali dan saya ikut bahagia," ungkapnya.
Baca juga: Kasus PMK di Kabupaten Tegal Melonjak, 22 Hari Bertambah hingga 826 Ternak
Baca juga: Pentolan Suporter Snex: PSIS Semarang Ungguli PSS Sleman, Bisa Main di Jatidiri
Emilia mengaku merasa tidak keberatan ketika harus memandikan, membuang kotoran, atau bahkan hal-hal lain yang dianggap orang lain menjijikan.
"Kami bisa buktikan, ODGJ bisa sembuh dan ada yang sukses dan menjalani hidup normal kembali," terangnya.
Dari 301 ODGJ yang pernah diselamatkan para relawan, ada beberapa yang cukup membekas di hati Sapto, Emilia, dan Teguh.
Mereka bercerita, ada ODGJ yang hilang 23 tahun akhirnya dapat bertemu lagi dengan keluarga.
Ada pula, yang paling jauh dari Lampung, juga akhirnya dapat berkumpul lagi dengan keluarga.
"Saya paling berkesan dengan ODGJ yang pertama kali saya lihat dan bantu. Namanya pak Rosidin."
"Dan saya, melihat betul bahwa ternyata begini ketika dia sembuh dan lucunya dia minta TV," ungkapnya.
Sementara itu, Teguh terkesan saat menolong ODGJ bernama Miswanto.
Kini, Miswanto sembuh hampir 100 persen.
"Jadi, kami merokok bersama, main Play Station dan kerja bakti bersama. Dia orang Madiun."
"Saat diantar pulang, saya ikut mengantar ke Madiun," katanya.
Kadang, saat bertemu keluarga para ODGJ, para relawan diberi 'uang terima kasih'.
Namun, Satpo menegaskan, relawan menolak dan mengembalikan ke keluarga untuk keperluan ODGJ tersebut.
"Kita kembalikan lagi karena mereka sebenarnya rata-rata kalangan menengah ke bawah meski yang kalangan atas ada juga."
"Tapi, kami percaya, pasti dapat balasan lain," imbuh Sapto.
Beri Kasih Sayang Tulus
Tentu saja, selama menjadi relawan, banyak tantangan yang mereka hadapi.
Terutama, saat bertemu dengan ODGJ yang agresif.
Tak jarang, para relawan kena pukul, tendang, atau bahkan sabetan dari ODGJ yang merasa asing dengan para penolongnya tersebut.
"Kuncinya adalah rasa kasih sayang tulus."
"Saya pernah mengevakuasi sendiri pasien ODGJ yang menurut laporan warga itu mengamuk dan memecahkan kaca rumah."
"Tapi, saya perlahan dekati dan alhamdulillah cukup bacaan Al-Fatihah, dia nurut sama saya dan mau saya mandikan dan bersihkan," cerita Emilia.
Baca juga: Cerita Bule Perancis Nikahi Ning atau Putri Kiai Pekalongan: Love at First Sight saat Jadi Relawan
Baca juga: Tidak Asing dengan PSIS Semarang, Winger PSS Sleman: Harus Profesional dan Kerja Keras!
Bukan hanya mengevakuasi ODGJ di jalanan, dalam praktiknya, para relawan juga menolong para ODGJ yang dipasung.
Ketika berhasil menolong, para relawan ikut membuat dan mengurus keperluas administrasi, mulai dari fasilitas kesehatan hingga dokumen kependudukan.
Sapto dkk berharap, penanganan kesehatan mental ini mendapat dukungan dari masyarakat.
Warga dapat ambil bagian dalam memenuhi kebutuhan pakaian ODGJ atau peralatan kebersihan pribadi.
Saat ini, menurut Sapto, jumlah Relawan ODGJ Banyumas terus meningkat.
Dari semula hanya lima orang, kini telah memiliki 52 relawan. (*)