Berita Purbalingga
Ajudan Jenderal Soedirman Mayor (purn) Abu Arifin Berpulang, Ini Wasiat yang Disampaikan
Sampai di akhir hayatnya, Arifin dikebumikan bukan di makam pahlawan.Ia dimakamkan seperti warga biasa, bukan prosesi pemakaman militer.
Penulis: khoirul muzaki | Editor: mamdukh adi priyanto
TRIBUNBANYUMAS.COM, PURBALINGGA- Masyarakat kembali kehilangan sosok pejuang kemerdekaan bangsa Indonesia.
Mayor (Purn) Dr Abu Arifin, mantan Ajudan II Panglima Besar Jenderal Soedirman telah berpulang.
Arifin meninggal dunia di usia yang ke 101 tahun di Rumah Sakit Nirmala Banyumas, Minggu (6/3/2022).
Abu Arifin adalah pejuang atau pengawal Jenderal Soedirman yang terakhir.
Baca juga: Abu Arifin Sedang Berjuang Lawan Tumor, Usianya Kini Genap Seabad, Mantan Ajudan Jenderal Soedirman
Teman-teman seperjuangannya rata-rata sudah meninggal.
Baik karena gugur di medan perang atau meninggal saat negara ini telah menikmati kemerdekaan.
Sebut saja Letjen TNI (Purn) Soepardjo Rustam serta mantan Gubernur DKI Jakarta Letjen TNI (Purn) Tjoktopranolo.
Mereka adalah teman seperjuangan Abu Arifin dalam mengawal kemerdekaan Republik Indonesia.
Mereka menjadi pengawal setia Panglima Jenderal Soedirman yang terlibat dalam perang gerilya saat Agresi Belanda II meletus, pada 1948.
Baca juga: Ingin Bangun Monumen, Ajudan II Jenderal Soedieman Mayor Abu Arifin Tunggu Balasan Surat Ganjar
Meski berjasa dalam merebut kemerdekaan, sosok Abu Arifin kurang mendapatka perhatian.
Berbeda dengan teman-teman seperjuangannya yang memiliki karir cemerlang usai kemerdekaan.
Arifin bahkan sempat tinggal di kontrakan di Purbalingga.
Hingga belakangan, di usianya yang senja, ia mendapat hadiah rumah dari TNI yang mulai memerhatikan nasibnya, 2013 lalu.
Ini setelah pengawal Soedirman itu menyurati Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Baca juga: Ajudan Jenderal Soedirman Ingin Bagikan Buku Karyanya di Ultah ke-100, Abu Arifin: Saya Undang SBY
Di rumah kecil pemberian pemerintah di Desa Dawuhan, Padamara, Purbalingga, Abu Arifin menghabiskan sisa umurnya dengan mengajar dan menulis buku.
Di usianya yang senja, Arifin bahkan semangat meneruskan pendidikannya hingga Strata 3 (S3) atau program doktoral.
Ia juga membangun museum mini Jenderal Soedirman dengan memanfaatkan sebagian ruang depan di rumah kecilnya.
Di situ ia memajang koleksi foto dan narasi sejarah perjuangannya.
Termasuk perjalanan perang gerilya bersama teman-temannya saat mengawal Jenderal Soedirman.
Baca juga: Ajudan Jenderal Soedirman Tutup Usia, Dimakamkan Secara Sederhana di Banjarnegara
Meski jasanya untuk negara besar, Arifin semasa hidupnya tak pernah meminta untuk diperhatikan.
Ia hidup sederhana dengan ekonomi pas-pasan.
Sampai di akhir hayatnya, Arifin dikebumikan bukan di makam pahlawan.
Ia dimakamkan seperti warga biasa, bukan prosesi pemakaman militer.
Jenazah pengawal Jenderal Soedirman itu dimakamkan di pemakaman keluarga di Klampok, Banjarnegara, Minggu (6/3/2022).
Baca juga: Merapi Muntahkan Material Vulkanik hingga 5 KM dari Puncak, Ganjar Pastikan Warga Siap Evakuasi
Pemakamannya juga tak dihadiri pemimpin daerah sebagai penghormatan terakhir kepada sang gerilyawan.
Mayor (purn) Abu Arifin meninggalkan 8 anak, 21 cucu, 15 cicit, dan 1 canggah.
Kematiannya membawa duka mendalam bagi anak cucunya.
Salah satu putri almarhum Abu Arifin, Bestari mengatakan, sebelum meninggal, ayahnya meninggalkan pesan.
Ia meminta agar Museum Mini Jenderal Soedirman yang menyatu dengan rumahnya tetap dipelihara meski ia sudah tidak ada.
"Pesannya, rumah Museum Mini agar dipelihara, dirawat, " katanya.
Baca juga: Jenazah Putri Kiai NU Meninggal Dunia Akibat Kecelakaan di Mesir Tiba di Semarang Tengah Malam
Museum Mini itu menjadi saksi bisu perjuangannya bersama Jenderal Soedirman dan teman-teman seangkatannya.
Keberadaan museum itu diharapkan menjadi wahana edukasi bagi masyarakat tentang sejarah perjuangan bangsa meraih kemerdekaan.
Ini sekaligus menjadi pengingat bagi generasi kini akan perjuangan para pahlawan yang mesti diteruskan.(*)