Berita Purbalingga
Ingin Bangun Monumen, Ajudan II Jenderal Soedieman Mayor Abu Arifin Tunggu Balasan Surat Ganjar
Di situ, Mayor (purn) Abu Arifin sering menghabiskan hari-harinya dengan menulis perjalanan hidupnya yang penuh lika-liku.
Penulis: khoirul muzaki | Editor: Rival Almanaf
TRIBUNBANYUMAS.COM, PURBALINGGA - Sebuah rumah pinggir jalan di Desa Dawuhan Kecamatan Padamara tampak beda dari rumah lain di sekitarnya.
Ada ruang yang selalu terbuka di bagian depan rumah itu.
Dindingnya dipenuhi foto-foto tentang perjalanan sejarah kemerdekaan Indonesia.
Ratusan buku tertata rapi di rak yang menempel tembok.
Ada bangku yang di atasnya berserak beberapa lembar kertas folio bertuliskan tangan.
Di situ, Mayor (purn) Abu Arifin sering menghabiskan hari-harinya dengan menulis perjalanan hidupnya yang penuh lika-liku.
• Semakin Banyak Tenaga Kesehatan Jadi Korban Covid-19, IDI Kota Semarang Minta Fasilitas Tes Berkala
• Empat Bulan Vakum Karena Pandemi Covid-19, Lawang Sewu Semarang Sudah Bisa Dikunjungi Lagi
• Wajib Belajar Jarak Jauh di Banyumas, Bunda PAUD Diminta Bantu Siswa Tak Miliki Akses Internet
• Salatiga Terapkan Pembelajaran Jarak Jauh Hingga Desember 2020, Sesuai Edaran Gubernur Jateng
Pengalaman yang wajib ia abadikan tentu, perjalanan hidupnya bersama Panglima Besar Jenderal Soedirman saat Agresi Belanda II, 1948.
Ajudan II Jenderal Soedirman itu selalu setia mengawal atasannya, termasuk saat perang gerilya.
Usia Arifin beberapa bulan lagi genap seabad.
Tetapi masih banyak pekerjaan yang belum berhasil ia selesaikan.
Ada cita-cita mulia yang belum kesampaian. Arifin masih mengebut penulisan buku sejarah yang sebagian telah masuk tahap penjilidan.
Ia juga masih berambisi mengembangkan museum mini yang menyatu dengan rumah sempitnya.
Arifin berencana membangun monumen Panglima Besar Jenderal Soedirman di depan rumah untuk menunjang museumnya.
Sepertinya langkah Arifin untuk mewujudkan itu semakin berat.
Tubuhnya semakin rapuh termakan usia.