Berita Semarang
Semakin Banyak Tenaga Kesehatan Jadi Korban Covid-19, IDI Kota Semarang Minta Fasilitas Tes Berkala
Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Semarang berharap adanya jaminan perlindungan bagi tenaga kesehatan, khususnya yang menangani Covid-19.
Penulis: Franciskus Ariel Setiaputra | Editor: Rival Almanaf
TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Semarang berharap adanya jaminan perlindungan bagi tenaga kesehatan, khususnya yang menangani Covid-19.
Mereka meminta ada pemeriksaan Covid-19 secara berkala untuk para tenaga kesehatan.
Seperti diketahui, baru-baru ini dua dokter di Kota Semarang, meninggal karena terpapar virus covid-19.
Keduanya masih memiliki hubungan saudara sebagai kakak-adik yakni dr Sang Aji Aneswara dan dr Ellianna Widiastuti.
• Wajib Belajar Jarak Jauh di Banyumas, Bunda PAUD Diminta Bantu Siswa Tak Miliki Akses Internet
• Salatiga Terapkan Pembelajaran Jarak Jauh Hingga Desember 2020, Sesuai Edaran Gubernur Jateng
• BERITA DUKA, Dokter Puskesmas Karanganyar Meninggal, Jadi Relawan Covid-19 di Kota Semarang
• Revitalisasi Terminal Bulupitu Purwokerto Dimulai, Ada Eskalator dan Hall Transit Layaknya Bandara
Menyoal dua dokter yang meninggal karena covid-19 tersebut, Ketua IDI Kota Semarang dr Elang Sumambar berharap ada jaminan pemeriksaan berkala bagi para tenaga kesehatan (nakes).
Hal itu diperlukan guna mengetahui kondisi kesehatan para nakes.
Dengana begitu akan tercipta rasa aman bagi sesama tenaga medis dalam bertugas menjalankan pelayanan ke masyarakat.
"Pada intinya kami mengimbau ke pemerintah ada perlindungan dengan cara dilakukan pemeriksaan berkala," ungkapnya kepada Tribunbanyumas.com, Kamis (9/7/2020).
"Supaya kami sebagai nakes juga ayem."
"Toh kalau ketahuan ada yang positif covid-19 dengan status Orang Tanpa Gejala (OTG) harus isolasi mandiri."
"Jangan sampai itu menularkan ke yang lain. Itu yang kita harap ada perhatiannya di sana," jelasnya.
Elang mengatakan, tak mempermasalahkan apakah nantinya pemeriksaan berkala ini dilakukan secara menyeluruh atau hanya dengan model sampling.
"Mau rapid test mau swab test monggo, kalau mau swab sekalian monggo tidak apa-apa."
"Tapi kita tidak memaksa untuk swab, karena kita melihat kondisi juga. Dan itu tidak murah kan?"
"Pada intinya di situ ada sesuatu perlindungan lewat pemeriksaan berkala," tegas mantan dokter tim PSIS Semarang ini.