Berita Semarang
Polisi Temukan Celurit dari 14 Pelajar di Kota Semarang yang Diciduk saat Berniat Tawuran
Niat 14 pelajar dari sebuah SMK di Semarang Utara menyerbu SMK Islam di daerah Kaliwungu, Kendal, digagalkan Tim Elang Hebat Polrestabes Semarang.
Penulis: iwan Arifianto | Editor: rika irawati
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Niat 14 pelajar dari sebuah SMK di Semarang Utara menyerbu sebuah SMK Islam di daerah Kaliwungu, Kendal, digagalkan Tim Elang Hebat Polrestabes Semarang atau Tebas.
Mereka yang telah mempersenjatai diri dengan sejumlah senjata tajam berupa celurit, dicegat Tim Elang saat bergerak ke lokasi tujuan.
Tim Tebas lantas menghubungi anggota Tim Resmob Elang Utara Polsek Semarang Utara untuk menindaklanjuti lantaran para pelajar tersebut berasal dari wilayah Semarang Utara.
Tim Elang Utara kemudian menggiring para remaja tersebut, beserta barang bukti, ke kantor Polsek Semarang Utara.
"Iya, betul, kami amankan 14 pelajar yang hendak menyerang sebuah sekolah di Kendal," papar Kapolsek Semarang Utara Kompol Budi Abadi saat dihubungi, Kamis (18/11/2021).
Menurut Budi, peristiwa itu terjadi Selasa (16/11/2021).
Baca juga: Warga Tolak Penetapan Tanah Musnah Lahan Tambak Terdampak Tol Semarang-Demak
Baca juga: Merasa Diteror Banjir Rob, Warga Tambaklorok Kota Semarang Minta Pembangunan Tanggul Laut Diwujudkan
Baca juga: Gabung Kembali dengan PSIS Semarang, Imran Dikabarkan Geser Posisi Ian Gillan sebagai Pelatih Kepala
Baca juga: Kontainer Bermuatan Drum Lepas saat Truk yang Membawa Ngepot Berbelok ke Tol Gayamsari Semarang
Rencana mereka melakukan tawuran terendus selepas polisi melakukan patroli rutin.
Budi mengatakan, 14 pelajar itu berasal dari satu SMK Negeri di Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang.
"Mereka hendak tawuran dengan mempersenjatai diri menggunakan senjata tajam," jelas Kapolsek.
Setelah diamankan di mapolsek, petugas kemudian menghubungi orangtua masing-masing anak, dan pihak sekolah.
Mereka dipanggil ke Mapolsek Semarang Utara dan dipertemukan dengan anak-anak pada Rabu (17/11/2021).
Dalam kasus itu, polisi tidak melakukan penahanan namun pembinaan.
Polisi juga meminta belasan pelajar itu sungkem kepada orangtua yang datang.
Saat itulah, anak-anak ini meminta maaf sambil menangis di pangkuan orangtua masing-masing.
Selain sungkem, mereka diberi pemahaman soal ancaman kepemilikan senjata tajam.