Breaking News:

Berita Jateng

Warga Tolak Penetapan Tanah Musnah Lahan Tambak Terdampak Tol Semarang-Demak

Warga pemilik tambak yang terdampak pembangunan jalan tol Semarang-Demak kembali menyuarakan penolakannya atas penetapan tanah musnah.

Penulis: m zaenal arifin | Editor: rika irawati
TRIBUNBANYUMAS/M ZAINAL ARIFIN
Warga pemilik tambak mengikuti sosialisasi pembangunan tol Semarang-Demak di Aula Kantor Kecamatan Genuk, Kota Semarang, Selasa (16/11/2021). Dalam kesempatan itu, mereka menyerahkan surat penolakan penetapan tanah musnah atas tambak yang kini tergenang air laut dan bakal dilalui tol. 

TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Warga pemilik tambak yang terdampak pembangunan jalan tol Semarang-Demak kembali menyuarakan penolakannya atas penetapan tanah musnah atas lahan tambak yang mereka miliki.

Lahan tambak warga tersebut dianggap musnah lantaran saat ini hilang akibat rob yang meluas hingga area tambak.

Penolakan tersebut disampaikan dalam sosialisasi pelaksanaan Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR)/Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Nomor 17 Tahun 2021 tentang Tanah Musnah, di Aula Kantor Kecamatan Genuk, Kota Semarang, Selasa (16/11/2021).

Berdasarkan data dari BPN Kota Semarang, total tambak terdampak tol Semarang-Demak dan belum dibebaskan mencapia 200 hektare.

Tambak tersebut berada di tiga kelurahan, yaitu Terboyo Kulon, Terboyo Wetan, dan Trimulyo. Ketiganya ada di Kecamatan Genuk, Kota Semarang.

"Kami berharap, tim pembebasan tanah tol Semarang-Demak ini hati-hati dalam menetapkan tanah musnah. Karena, yang sebenarnya tambak warga ini masih produktif."

"Maka, kami menolak jika kemudian ditetapkan sebagai tanah musnah," kata kuasa hukum warga petambak, Joko Wahyono, usai sosialisasi.

Baca juga: Dikaji Pemerintah, Dasaran Tol Semarang-Demak di Wilayah Rob Bakal Menggunakan Bambu

Baca juga: Ini Keistimewaan Tol Semarang-Demak Menurut Presiden Jokowi

Baca juga: Temuan Awal Polda Jateng, Sambaran Petir Diduga Menjadi Pemicu Kebakaran di Kilang Pertamina Cilacap

Baca juga: Waspadai La Nina, BPBD Jateng Ingatkan 12 Kabupaten/Kota yang Masuk Risiko Tinggi Bencan

Dikatakannya, jika ditetapkan sebagai tanah musnah maka warga pemilik tambak mengalami kerugian.

Pasalnya, tambak warga yang jumlahnya sekitar 150 bidang di tiga kelurahan itu masih produktif untuk budidaya ikan, udang, dan kerang.

Dengan ditetapkan menjadi tanah musnah maka warga hanya akan mendapat tali asih atau uang kerohiman.

Halaman
123
Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved