Berita Tegal
Tak Biasa, Bocah 3 Tahun di Kota Tegal Suka Nyemil Tanah dan Pecahan Tembok. Ini Penjelasan Sang Ibu
Bocah berusia tiga tahun asal Debong Lor, Kecamatan Tegal Barat, Kota Tegal, VF, memiliki kebiasaan tak wajar. VF gemar makan tanah dan tembok.
TRIBUNBANYUMAS.COM, TEGAL - Bocah berusia tiga tahun asal Debong Lor, Kecamatan Tegal Barat, Kota Tegal, VF, memiliki kebiasaan tak wajar. VF gemar makan tanah dan tembok.
Umrotun Khasanah (40), ibu VF, mengaku, mengetahui anaknya gemar makan tanah dan pecahan tembok saat sang anak berumur dua tahun.
"Saat itu, (VF) main sendiri di dalam rumah dan saya tinggal memasak. Saat saya lihat, dia sedang makan tanah dari pecahan tembok," kata Umrotun saat ditemui di rumahnya, Sabtu (11/9/2021).
Ia mengaku sudah menegur agar anaknya tak melakukan hal tersebut.
Baca juga: Rencana 14 September 2021, Pembukaan Serentak Bioskop di Kota Tegal
Baca juga: Alhamdulillah Lancar, PTM Terbatas Tingkat SMP di Kota Tegal, Pekan Depan Tambah Tujuh Sekolah
Baca juga: Vaksinasi di Kota Tegal Mulai Sasar Siswa SD Sederajat, Target 156 Sekolah
Baca juga: Satpol PP Kota Tegal: Berstatus Ilegal, Karaoke yang Pekerjakan Anak Bawah Umur Jadi Pemandu Lagu
Namun, saat lepas pengawasan, VF kembali makan tanah dan pecahan tembok hingg menjadi kebiasaan sampai sekarang.
"Katanya enak. Kalau main di luar, juga tanah yang dimakan. Dan kalau dilarang, dia nangis. Akhirnya keterusan sampai sekarang," kata Umrotun.
Mengeluh sakit perut
Terkait kondisi VF, Umrotun mengaku tak pernah membawa anaknya ke dokter, baik untuk berobat atau pun berkonsultasi.
Menurutnya, jika sang anak sakit perut usai makan tanah, ia hanya memberi puyer.
"Kalau anak saya ngeluh sakit perut, paling saya beri obat puyer," kata Umrotun.
Ia sendiri tak tahu alasannya mengapa sang anak gemar makan tanah. Ia menduga, VF makan tanah karena tak pernah jajan.
Umrotun memang tak membelikan anak ketiganya itu jajan karena mereka tak memiliki cukup uang. Bahkan, ia dan keluarganya hanya makan dua kali sehari.
"Ya, mungkin karena tidak pernah jajan. Makan saja sehari kami mampunya hanya dua kali," kata Umrotun.
Umrotun adalah ibu rumah tangga yang memiliki 3 anak. Sementara suaminya, Carmo, bekerja sebagai teknisi barang-barang eletronik yang penghasilannya tak menentu.
"Penghasilan memang tidak menentu. Kalau ada orang yang datang mau servis, baru dapat uang. Paling Rp 10.000 sampai Rp 25.000," katanya.
Baca juga: Tiga Kursi Kepala OPD di Pemkab Kudus Kosong, Buntut Mutasi Lima Pejabat
Baca juga: Polda Jateng Tangani Pencemaran Sungai Bengawan Solo, Cek Industri Rumah Pembuat Ciu di Sukoharjo
Baca juga: Picu Kerumunan, Turnamen Voli dan Lomba Burung di Kutasari Purbalingga Dibubarkan Satgas Covid
Baca juga: Workshop Membuat Komik Diminati Anak Muda di Banyumas, Bupati Bakal Siapkan Comic House