Berita Semarang
Cerita Pemilik Bisnis Peti Mati di Semarang di Tengah Pandemi: Banyak Pesanan tapi Belum Dibayar
Sambil mengawasi pekerjanya, Emi menceritakan kondisi bisnis peti jenazah di tengah pandemi Covid-19.
Penulis: budi susanto | Editor: rika irawati
TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Dari kejauhan, tumpukan peti jenazah nampak memenuhi pelataran sebuah rumah di Jalan Menoreh Raya, Kecamatan Gajah Mungkur, Kota Semarang, Kamis (22/7/2021).
Lebih mendekat, dua orang pekerja terlihat sibuk melapisi peti jenazah dengan cairan pernis kayu.
Kesibukan pengrajin peti jenazah itu mewarnai lalu-lalang kendaraan yang melintas di Jalan Menoreh Raya.
Di tengah aktivitas itu, seorang wanita mengawasi dua pekerja yang melakukan finishing terhadap permukaan peti jenazah.
Ia adalah Emi Widiarsih, pemilik tempat kerajinan peti jenazah tersebut. Tempat milik Emi juga menjadi satu-satunya penghasil peti jenazah di wilayah Gajah Mungkur, Kota Semarang.
Baca juga: Percepat Pembentukan Kekebalan Kelompok, Pemkot Semarang Berencana Buka Vaksinasi Covid di Kelurahan
Baca juga: Kota Semarang Masih Masuk Level IV, Hendi: PPKM Darurat Berubah Jadi Swalevel
Baca juga: Data Pemkot Semarang: Alhamdulillah, Warga yang Isolasi Mandiri Tinggal 500 Orang
Baca juga: Tawarkan 187 Formasi, Berikut Lowongan CPNS di Pemkot Semarang yang Kurang Diminati
Sambil mengawasi pekerjanya, Emi menceritakan kondisi bisnis peti jenazah di tengah pandemi Covid-19.
Menurutnya, beberapa kendala dihadapi selama masa pendemi dan pemberlakuan PPKM darurat.
"Selain bahan baku peti jenazah dan tenaga pekerja, terlambatnya pembayaran dari rumah sakit juga menjadi kendala bagi kami," ucapnya.
Dilanjutkan Emi, keterlambatan pembayaran dari rumah sakit dialami saat angka meninggal dunia karena Covid-19 di Kota Semarang meningkat.
"Pihak rumah sakit terus memesan peti jenazah tapi pembayaran terlambat. Memang ada yang sistemnya langsung bayar saat peti jenazah dikirim tapi ada juga yang pembayaran secara berjangka namun sampai tanggalnya pembayaran, molor," paparnya.
Kondisi tersebut diakui Emi menghambat laju usaha lantaran ia harus mengeluarkan modal terlebih dahulu.
"Kalau dihitung, ya puluhan juta. Saat pemberlakuan PPKM darurat saja, pesanan bisa ratusan peti jenazah. Bulan lalu saja, ada 100 lebih namun yang dibayar sampai sekarang baru 50 persennya. Padahal, untuk peti jenazah Covid-19, harga peti berserta kelengkapan bisa di angka Rp 2 juta lebih," ucapnya.
Diterangkannya, peti jenazah termurah dipatok harga Rp 800 ribu. Sementara paling mahal, sampai puluhan juta rupiah, tergantung pesanan.
"Itu yang biasa, untuk harga peti jenazah Covid-19 bisa dua kali lipat lebih karena kami harus menyiapkan plastik dan kelengkapannya," jelasnya.
Baca juga: 784 Pelaku Jasa Keuangan di Purbalingga Mulai Divaksin Covid, Begini Harapan Bupati
Baca juga: Pembelajaran Tatap Muka Diwacanakan Digelar Juli, Begini Saran IDAI Jateng
Baca juga: Polres Kudus Serahkan Bantuan Kepada Dua Ponpes, Berisi 200 Kg Beras dan 20 Paket Sembako
Baca juga: Banjarnegara Mulai Salurkan JPS PPKM Darurat Rp 300 Ribu/KK, Sasar 16.658 Keluarga
Emi mengatakan, kini, pesanan peti jenazah Covid-19 mengalami penurunan di angka 80 persen.