Berita Kudus

Wajib Dicoba, Getuk Saus Alpukat Asal Desa Kajar Kudus yang Bakal Ikut Festival Kuliner di Slovenia

Desa Kajar di Kecamatan Dawe, Kudus sayang dilewatkank penyuka kuliner. Banyak warga membuat getuk berbagai varian, termasuk getuk saus alpukat.

Editor: rika irawati
TRIBUNBANYUMAS/RAKA F PUJANGGA
Karyawan Pondok Getuk Pak San menunjukkan getuk saus alpukat yang dijual di Desa Kajar, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. 

"Protokol kesehatan selalu kami tekankan kepada semua pedagang getuk," jelas dia.

Saat ini, kata dia, terdapat 36 pedagang getuk di Desa ‎Kajar, yang terus berinovasi mengenalkan wisata kuliner di sana.

Pedagang getuk di Desa ini melonjak sejak wabah Covid-19 merambah ke Kudus, April 2020 lalu.

"Mulai ramai jual getuk ini justru waktu pandemi, di bulan April 2020," jelas dia.

Bermula dari getuk goreng yang isinya gula dan cokelat kemudian, kini bisa berkembang dengan beragam varian rasa.

"‎Alhamdulillah, ada pendampingan dari Dinas Pariwisata sehingga dari penataan sajian dan mutunya juga baik," ujarnya.

‎Pengunjung Pondok Getuk Pak San, Arif Rahman (31), mengaku baru pertama menikmati getuk saus alpukat.

Dia penasaran karena tempat usaha ini menawarkan inovasi berbeda dari getuk yang dijual pada umumnya.

"Pertama kali saya coba makan, ternyata enak juga. Saus alpukatnya terasa seperti minum jus," ujarnya.

Sungai Ijo di Sampangan Kota Pekalongan Meluap Lagi, 101 Warga Diungsikan di Tiga Titik

Tak Punya Uang untuk Judi Togel, Warga Ambal Nekat Curi Kambing. Kecanduan Judi Sejak Remaja

Kepingin Naik Motor, Bocah Kelas 5 SD di Madiun Tiga Kali Curi Motor di Masjid

‎Sementara itu, Pendamping Desa Wisata Kajar Donna Ekawati menceritakan, inovasi getuk saus alpukat rencananya akan dibawa ke Festival Kuliner di Slovenia.

Pihaknya tengah mempertimbangkan cara membawa bahan bakunya ke negeri yang berbatasan dengan Italia tersebut.

"Kami harus bawa masih mentah karena kalau sudah matang, nanti nggak fresh lagi," jelas dia.

‎Solusi lain, bisa menggunakan bahan baku yang ada di sana. Namun, harga yang lebih mahal dan jenis ketela yang berbeda dikhawatirkan mempengaruhi rasa.

"Kalau beli di sana, harganya sudah euro dan mungkin juga jenisnya berbeda," jelas dia. (*)

Sumber: Tribun Banyumas
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved