Berita Temanggung

BPBD Temanggung Pantau 195 Titik Rawan Longsor, Minta Warga Lapor Kejadian Lewat Aplikasi Sinotika

Hasil pemetaan BPBD Temanggung, ada 195 titik rawan longsor selama musim penghujan.

Penulis: Saiful Ma'sum | Editor: rika irawati
TRIBUNBANYUMAS/SAIFUL MA'SUM
Kepala Pelaksana Harian BPBD Temanggung Dwi Sukarmei. 

TRIBUNBANYUMAS.COM, TEMANGGUNG - Memasuki musim penghujan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Temanggung meminta warga di wilayah tersebut mulai mewaspadai terjadinya bencana alam.

Hasil pemetaan BPBD, ada 195 titik rawan longsor selama musim penghujan.

Hal tersebut disampaikan Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Temanggung, Dwi Sukarmei, Jumat (30/10/2020).

Menurut Dwi, beberapa titik rawan bencana ini dipantau selama 24 jam setiap harinya.

Di antaranya titik longsor tersebut ada di Kecamatan Gemawang, Kranggan, Ngadirejo, Pringsurat, Selopampang, Temanggung, Wonoboyo, Bejen, Candiroto, dan Tretep.

Baca juga: Waspadai Longsor, Hujan Diperkirakan Guyur Wonosobo Jelang Siang Hingga Malam Hari

Baca juga: Banjir di Cilacap Terus Meluas, Seribuan Warga Masih Bertahan di Tempat Pengungsian

Baca juga: Banjir Rendam Rumah Warga di Desa Sirau dan Grujugan Banyumas, Ketinggian Air Mencapai 1,5 Meter

Baca juga: Musim Hujan Datang, Berikut Peta Potensi Bencana di Banyumas: 11 Kecamatan Rawan Longsor

Belum lama ini, BPBD mencatat ada bencana angin puting beliung dan tanah longsor di Kecamatan Tembarak dan Telogomulyo.

"195 titik ini berdasarkan data pada 2019. Kenaikannya cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir, yakni 100-150 titik," terangnya.

Pihaknya memprediksi, hingga akhir Desember 2020 nanti, terjadi penambahan titik bencana di tempat-tempat perbukitan maupun lereng.

Pihaknya juga telah merintis aplikasi berbasis website dengan nama Si-Notika atau Sitem Informasi Notifikasi Kebencanaan.

Lewat aplikasi ini, warga diharapkan lebih mudah melapor terjadinya bencana di wilayah mereka.

"Kami komunikasikan dengan provinsi guna memperbanyak alat pendeteksi bencana. Sehingga, antisipasi bencana bisa dicegah sedini mungkin secara maksimal," ujarnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Temanggung Heri Ibnu Wibowo menambahkan, saat ini, masyarakat Temanggung dihadapkan pada tiga jenis bencana.

Baca juga: Tak Punya Cukup Uang Diduga Jadi Motif Remaja Perempuan di Cilacap Tusuk Sopir Taksi Online

Baca juga: Sidak Rest Area Ungaran dan Salatiga, Gubernur Ganjar Ingatkan Pengetatan Protokol Kesehatan

Baca juga: 2.500 Alat Peraga Kampanye di Kota Semarang Langgar Aturan, Akan Ditertibkan Pekan Depan

Baca juga: 5 Bioskop di Kota Semarang Boleh Buka Lagi di Tengah Pandemi Covid-19, Ini Daftarnya

Selain bencana nonalam berupa pandemi Covid-19, juga dihadapkan bencana sampah dan juga bencana penyalahgunaan narkotika.

Karena itu, ia berharap, masyarakat bahu membahu mengurai dan mengantisipasi hal-hal yang dapat memicu timbulnya berbagai bencana yang ada.

Tak hanya bencana alam maupun Covid-19, masyarakat diimbau membantu pemerintah daerah meminimalkan penumpukan sampah, serta berperan aktif dalam mencegah penyalahgunaan narkotika.

"Bupati sudah memprogramkan pengolahan sampah rumah tangga di tiap rumah. Terkait narkotika, juga terus diupayakan untuk mencegah pengedaran dan penyalahgunaannya. Masyarakat juga jangan lupa wasapada terhadap bahaya bencana alam yang bisa saja timbul kapan pun," jelasnya. (*)

Sumber: Tribun Banyumas
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved