Berita Kebumen
Bina Pelajar yang Terlibat Aksi Anarkis, Kapolres Kebumen Gunakan Metode Hipnoterapi, Ini Hasilnya
Alih-alin memahami materi naskah UU Cipta Kerja yang dipersoalkan, anak-anak bawah umur itu bahkan tidak mengetahui isi tuntutan aksi yang dilakukan.
Penulis: khoirul muzaki | Editor: deni setiawan
TRIBUNBANYUMAS.COM, KEBUMEN - Delapan pelajar yang terlibat dalam aksi anarkis saat demonstrasi di depan Gedung DPRD Kabupaten Kebumen beberapa waktu lalu, Selasa (13/10/2020) datang ke Polres Kebumen.
Mirisnya, ternyata beberapa pelajar tersebut masih duduk di bangku SMP kelas 2 serta kelas 1 SMK.
Alih-alin memahami materi naskah UU Cipta Kerja yang dipersoalkan, anak-anak bawah umur itu bahkan tidak mengetahui isi tuntutan aksi yang mereka lakukan.
Baca juga: Bappenas Dorong GNKK Jadi Unesco Global Geopark, Bupati Kebumen: Sedang Kami Usulkan
Baca juga: Spanduk Kotak Kosong Dicopot Warga di Kebumen, Ini Komentar Bawaslu Jateng
Baca juga: Pakai Seragam Ojol, Pemuda Ini Ditangkap Bawa Sabu, Kapolres Kebumen: Dia Sangat Beruntung
Baca juga: Penganiayaan di Kebumen, Tidak Terlihat Penyesalan Pelaku Seusai Tebas Korban Gunakan Sabit
Saat ditanya oleh penyidik Sat Reskrim Polres Kebumen, mengakunya hanya ikut-ikutan.
Karena masih di bawah umur, delapan pelajar itu dikumpulkan Kapolres AKBP, Rudy Cahya Kurniawan bersama para orangtua mereka di Gedung Tribrata Polres Kebumen.
AKBP Rudy pun secara langsung melakukan pembinaan.
Setelah diberikan pemahaman oleh Kapolres, para pelajar tersadar apa yang telah dilakukan ternyata melanggar hukum.
Aksi pelemparan batu dan perusakan fasilitas umum adalah bentuk pelanggaran hukum.
AKBP Rudy pun mengeluarkan jurus andalannya untuk menyadarkan para pelaku dengan metode hipnoterapi.
"Para pelajar ini kami kumpulkan, kami sadarkan."
"Kami gunakan metode hipnoterapi, komunikasi dari hati ke hati."
"Hasilnya mereka mengakui kesalahannya, dan berjanji tidak mengulanginya lagi," jelas AKBP Rudy kepada Tribunbanyumas.com, Selasa (13/10/2020).
Setelah tersadar, para pelajar seketika meminta maaf kepada orangtua karena telah mengecewakan.
Para pelajar itu merendahkan tubuhnya dan sungkem kepada orangtuanya di hadapan Kapolres.
Para orangtua ternyata mengaku tidak tahu saat anaknya bergabung bersama pendemo pada Jumat (9/10/2020).