Teror Virus Corona

66 Jurnalis di Surabaya Positif Covid-19 Dua Meninggal, Ini 3 Hal yang Mendesak Dievaluasi

66 Jurnalis di Surabaya Positif Covid-19 Dua Meninggal, Ini 3 Hal yang Mendesak Dievaluasi

Istimewa/net.
Ilustrasi jurnalis / pekerja media sedang wawancara di lapangan - Kasus 66 jurnalis di Surabaya dinyatakan positif Covid-19, di mana dua di antaranya meninggal dunia, mengundang keprihatinan sejulah pihak. AJI Surabaya menilai dengan klaster baru jurnalis ini, ada tiga pihak yang mendesak untuk dievaluasi. 

SURABAYA - Hingga saat ini tercatat 66 jurnalis atau pekerja media di Surabaya Jawa Timur (Jatim) yang dinyatakan positif Covid-19, di mana dua di antaranya meninggal dunia.

Penyebaran dan penularan virus corona terhadap puluhan jurnalis dari tiga media ini, menjadi klaster baru penyebaran Covid-19.

Tentu saja ini menjadi keprihatinan tersendiri. Menurut Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surabaya, ada tiga hal yang mendesak dievaluasi terkait klaster baru penyebaran Covid-19 di kalangan jurnalis ini.

Hal ini disampaikan Ketua AJI Surabaya, Miftah Faridl. Ia menyampaikan keprihatinan menyusul ditemukannya puluhan jurnalis dan pekerja media di Jawa Timur, yang terinfeksi Covid-19.

Siaran di Kantor RRI Surabaya Dihentikan, Buntut 60 Pegawai Dinyatakan Positif Covid-19

Upaya Tracing Kontak Erat Pasien Covid-19 di Ponorogo Terhambat, Antrean Uji PCR Membludak

PSIS Merasa Syarat Gugus Tuga Covid-19 untuk PSSI Sulitt Diterapkan, Bagaimana Nasib Kompetisi?

18 Lembaga Segera Dihapuskan, Ini Daftar Lembaga yang Dibubarkan dan Dibentuk Persiden Jokowi

"Pertama, kami prihatin dengan banyaknya pekerja media dan jurnalis yang terpapar Covid-19," kata Faridl, saat dihubungi, Rabu (15/7/2020).

Dengan munculnya klaster jurnalis dan pekerja media, Faridl menyebut ada tiga pihak yang mendesak dievaluasi.

Yakni institusi pemerintahan, perusahaan media, dan jurnalis itu sendiri.

Pemerintah kerap adakan acara seremonial

Evaluasi tersebut berkaitan dengan penerapan protokol keselamatan peliputan, yang dinilai telah diabaikan tiga pihak tersebut.

Faridl mengungkapkan, pada Maret 2020 lalu, AJI Surabaya telah mengirimkan surat kepada Pemerintahan Provinsi Jatim dan Pemerintah Kota Surabaya, yang berisi perihal pentingnya protokol keselamatan peliputan bagi jurnalis.

"Maret lalu, ketika kasus (Covid-19) ini masih belum setinggi sekarang, AJI sudah me-warning semua pihak."

"AJI merespons berbagai aktivitas dari para pejabat di Pemkot Surabaya dan Pemprov Jatim, terkait pengabaian mereka terhadap protokol keselamatan peliputan jurnalis," ujar dia.

Dalam surat yang dilayangkan kepada Pemprov Jatim dan Pemkot Surabaya itu, Faridl mengaku masukan-masukan AJI Surabaya sempat dijalankan oleh beberapa instansi pemerintah.

Masukan yang sempat dijalankan salah satunya adalah menggelar konferensi pers secara virtual agar tidak menimbulkan kerumunan.

Sayangnya, hal itu hanya berjalan sementara waktu.

Halaman
1234
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved