Berita Cilacap
Kisah Guru Penghayat Kepercayaan di Cilacap, Muslam Belum Merasakan Dapat Gaji Sejak 2015
Angin segar dihembuskan negara bagi penghayat kepercayaan di tanah air memberi ruang besar sebagai payung hukum. Namun di lapangannya seperti ini.
Untuk itu, Muslam berupaya dengan kuat agar para siswa ini bangga menyebut dirinya sebagai penghayat di tengah kawan-kawannya yang menganut agama mayoritas.
Selain di Cilacap, siswa penganut penghayat juga ada di Yogyakarta.
Kuswijoyo Mulyo adalah penghayat yang yang diberi kepercayaan sebagai koordinator untuk empat penyuluh di Yogyakarta.
Tidak seperti di Cilacap yang memiliki 50 siswa, di Yogyakarta hanya ada tujuh siswa yang mengikuti pelajaran penghayat di sekolah.
Kuswijoyo bercerita masih ada sejumlah oknum di sekolah yang belum bisa menerima kenyataan jika siswa penghayat berhak atas pelajaran sesuai keyakinannya.
“Kurikulum, silabus, dan lainnya tidak ada masalah."
"Tantangan besarnya seberapa jauh keterbukaan sekolah terbuka bagi setiap siswa atau siapapun yang akan mengambil penghayat kepercayaan."
"Kalau negara sudah cukup terbuka, cukup baik memberikan pelayanan untuk pendidikan,” kata Kuswijoyo.
Kuswijoyo mengatakan, proses besar yang harus diperjuangan adalah agar pelajaran penghayat ini masuk secara integral ke dalam kurikulum nasional.
• Target Capai Lima Persen, Total Warga Jalani Rapid Test Massal di Kota Semarang
• Di Kota Tegal, 479 Karyawan yang Dirumahkan Sudah Bekerja Lagi, Jumadi: Pakai Sistem Kerja Shift
• WNA Pekerja Pabrik Tas di Grobogan Terinfeksi Virus Corona, Imigrasi: Ketiganya Asal Filipina
Dengan langkah tersebut sangat memungkinkan setiap daerah di Indonesia secara sama memberikan pelayanan pelajaran bagi penghayat kepercayaan.
Sehingga pelajaran penghayat kepercayaan akan memiliki kesetaraan dengan pelajaran agama yang sudah diajarkan selama ini.
Dalam beberapa kesempatan, kata Kuswijoyo, ia beberapa kali didatangi oleh sejumlah siswa yang mengaku ingin mempelajari ajaran para leluhur ini.
Mereka datang dari berbagai macam latar belakang, termasuk agama yang berbeda-beda.
Niat itu terbentur oleh kewajiban untuk mendiskusikan pilihan tersebut dengan orangtua siswa, dan iklim sekolah yang kadang kurang kondusif.
Karena itulah, jumlah penghayat kelompok usia muda di Yogyakarta jumlahnya tidak terlalu besar.