Banyumas
Alat Kristalisator 35 Juta UGM Padukan Feeling Petani Gula Cilongok
UGM kenalkan mesin kristalisator 35 juta padukan feeling petani gula semut Cilongok, Banyumas pada Senin (1/6) demi dongkrak mutu ekspor.
Penulis: Permata Putra Sejati | Editor: Daniel Ari Purnomo
Berdasarkan dasar ilmiah itulah, para pengrajin kemudian diajarkan secara mandiri cara mengukur validitas kualitas nira menggunakan parameter ukur ilmiah, salah satunya menyasar tingkat keasaman atau biasa disebut nilai pH.
"Nira yang baik untuk gula semut minimal memiliki pH enam. Kalau kurang dari enam berarti sudah terfermentasi dan tidak layak diolah menjadi gula semut," katanya membeberkan indikator kualitas nira.
Selain hal tersebut, para peserta pelatihan juga dibekali pemahaman vital tentang kewajiban penggunaan media wadah yang bersih serta tertutup rapat. Imbauan ini menjadi amat esensial terutama saat tiba musim penghujan, di mana angka risiko kontaminasi bakteri liar meningkat sangat tajam.
Dalam kesempatan tersebut, Sri turut mengungkapkan bahwa tahapan pengembangan alat pengolahan gula semut ini faktanya telah konsisten dilakukan oleh tim peneliti UGM sejak tahun 2009. Selama rentang waktu lebih dari 15 tahun mengabdi, berbagai model dan aneka kapasitas alat telah berhasil dikembangkan, serta diuji coba secara langsung di sejumlah daerah operasional di Indonesia.
Teknologi serupa mesin-mesin ini bahkan dilaporkan telah sukses diterapkan pada ekosistem pengolahan komoditas gula nipah di area Kalimantan, serta sentra gula aren di kawasan Riau.
"Kami terus mengembangkan alat yang lebih sederhana, lebih efisien dan mudah digunakan masyarakat. Jadi hasil penelitian tidak hanya berhenti menjadi laporan, tetapi benar-benar bisa dimanfaatkan masyarakat," ujarnya menekankan dampak nyata akademisi.
Penunjukan nama Cilongok sebagai titik lokasi kegiatan pendampingan kali ini pun jelas bukan tanpa alasan mendasar. Wilayah strategis tersebut sejauh ini memang telah dikenal luas sebagai salah satu pusat sentra produksi gula kelapa dan gula semut terbesar se-antero Banyumas.
Apalagi, banyak dari deretan pengrajin di kawasan tersebut yang selama ini berposisi menjadi barisan pemasok utama rantai gula semut untuk mencukupi besarnya kebutuhan ekspor PT IMC.
Sri memaparkan bahwa jalinan kerja sama solid dengan korporasi PT IMC bermula pada tahun 2021 lalu, tak berselang lama setelah jajaran manajemen perusahaan tersebut membaca jurnal publikasi riset penelitian UGM mengenai sistem pengolahan gula semut secara higienis berbantuan mesin. Dari benih komunikasi awal tersebut, lantas kemudian mewujud lahir sebuah kolaborasi konkret guna merealisasikan serta mengimplementasikan teknologi tersebut langsung di level dasar tingkat petani.
"Kebetulan sentra produksinya ada di Cilongok dan PT IMC juga berada di Banyumas, sehingga kami memilih lokasi ini untuk penerapan program," katanya membeberkan alasan operasional.
Adapun dalam helatan kegiatan pengabdian ini, kampus UGM tak luput menggandeng Universiti Putra Malaysia sebagai barisan mitra level internasional. Perguruan tinggi bereputasi tersebut berkesempatan penuh memberikan materi mendalam mengenai standardisasi praktik terbaik mengenai pengolahan turunan buah kelapa yang selama ini secara paten telah diterapkan di negeri Malaysia.
Modul materi lintas negara tersebut sangat diharapkan mampu mendobrak serta memperluas cakrawala wawasan pola pikir para pengrajin gula semut Banyumas, mengingat hampir sebagian besar urat nadi aktivitas mereka juga tak lepas bersinggungan erat dengan nasib komoditas kelapa.
Menyinggung perkara biaya, Sri menyebut bahwa hitungan ongkos pembuatan perangkat alat evaporator serta kristalisator inovatif tersebut memakan biaya berkisar antara Rp25 juta hingga puncaknya Rp35 juta, amat bergantung pada spesifikasi kapasitas yang diminta.
Nominal harga pembuatan tersebut merupakan harga mentah biaya produksi tanpa memperhitungkan sepeserpun nilai keuntungan atau laba komersial, mengingat sejak awal mula perancangan, alat ini memang murni didekasikan khusus untuk mengabdi kepada masyarakat luas.
"Kalau yang besar sekitar Rp35 juta. Yang kecil sekitar Rp25 juta sampai Rp30 juta. Itu tanpa menghitung laba karena ini murni kegiatan pengabdian masyarakat," katanya membeberkan rincian dana alat.
| Pegawai Resign Usai Jual Produk Fiktif, 13 Pensiunan Rugi 1,8 Miliar |
|
|---|
| Simpan Ranting Ganja Ratusan Gram, Kentung Diciduk Polisi di Wangon |
|
|---|
| Disambut 28 Perwakilan Pedagang, Tarif Pasar Banyumas Batal Naik 300 Persen |
|
|---|
| Berburu Brong Hingga Subuh, Polresta Banyumas Sita 194 Kendaraan |
|
|---|
| Tak Pernah Ditanya Menteri, Sadewo Target 27 Kursi DPRD Banyumas |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/20260601-evaporator-dan-kristalisator-gula-semut-cilongok.jpg)