Wonosobo
Solusi Bosan Obat, RS PKU Muhammadiyah Wonosobo Buka Klinik Bekam dan Terapi Akuatik
RS PKU Muhammadiyah Wonosobo resmikan layanan pengobatan tradisional Asiri Syifa, Sabtu (9/5). Tersedia bekam, akupunktur hingga jamu.
Penulis: Imah Masitoh | Editor: Daniel Ari Purnomo
Ia mengungkapkan bahwa layanan akupunktur rupanya menjadi salah satu jenis terapi yang diklaim paling banyak diminati oleh masyarakat semenjak fasilitas tersebut mulai dibuka untuk umum.
“Animonya juga lumayan cukup banyak yang membutuhkan akupuntur,” ujarnya.
Bahkan, sejumlah pasien juga disebut sudah mulai merasakan adanya perubahan positif pada kondisi kesehatan mereka setelah mereka dengan rutin menjalani terapi tersebut.
Pengembangan masif pada layanan kesehatan tradisional di lingkungan RS PKU Muhammadiyah Wonosobo ini rupanya juga mendapat pendampingan intensif dari RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta melalui skema program Sister Hospital.
Direktur SDM, Pendidikan, dan Penelitian RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta, drg. Nusati Ikawahju mengatakan bahwa langkah pendampingan ini dilakukan secara menyeluruh, mulai dari aspek peningkatan kompetensi SDM hingga menyentuh urusan tata kelola layanan kesehatan tradisional.
Menurut drg. Nusati, negara Indonesia sejatinya memiliki sebuah potensi yang luar biasa besar dalam urusan pengembangan obat herbal. Sumber daya tersebut berbasis pada kekayaan alam lokal yang kelak bisa dimanfaatkan optimal bagi peningkatan standar pelayanan kesehatan.
“Kekayaan alam di Indonesia ini sangat luar biasa,” ujarnya memuji.
Ia juga turut menilai bahwa tren kesadaran terhadap penggunaan terapi alami saat ini mulai berkembang pesat di berbagai belahan negara lain, terutama difokuskan untuk penanganan keluhan penyakit kronis layaknya diabetes mellitus dan hipertensi.
Di sisi lain, Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat, turut menyambut gembira dan sangat mengapresiasi hadirnya fasilitas inovatif layanan kesehatan tradisional di RS PKU Muhammadiyah Wonosobo ini.
Kondisi geografis pegunungan dan tanah yang subur di wilayah tersebut membuat banyak warganya terbiasa menanam berbagai jenis tanaman obat keluarga (toga) seperti jahe, kunyit, kencur, hingga serai di halaman atau pekarangan rumah mereka.
“Kalau nenek moyang kita dulu selalu memanfaatkan tanaman seperti kencur, jahe, dan macam-macamnya untuk obat tradisional,” kata Afif mengenang tradisi leluhur.
Ia menilai bahwa besarnya potensi budidaya tanaman herbal di Wonosobo sangat bisa dikembangkan dengan skala yang lebih serius lagi ke depannya, mengingat hal ini sangat didukung oleh iklim alam sekitar yang cocok untuk lahan budidaya tanaman obat.
Menurut Afif, tersedianya layanan kesehatan tradisional yang terintegrasi langsung di dalam rumah sakit menjadi suatu langkah penting. Hal ini bertujuan agar tren penggunaan herbal tidak lagi dilakukan secara sembarangan oleh masyarakat berdasarkan feeling, melainkan murni berbasis ilmu pengetahuan modern dan berada di bawah pengawasan langsung dari tenaga ahli.
“Kalau di sini semua dengan ilmu dan ahlinya,” katanya.
Sebagai bentuk support system, Pemerintah Kabupaten Wonosobo sendiri menegaskan kesiapannya untuk membuka peluang kerja sama yang luas dalam hal pengembangan program kebun sehat serta budidaya ragam tanaman obat di tingkat petani guna mendukung penuh pasokan layanan kesehatan tradisional di daerah tersebut. (ima)
| Gempuran Inggris Geger Sepehi 1812 Bukti Sultan HB II Layak Jadi Pahlawan |
|
|---|
| Sentil Kebiasaan Saat Bencana, BPS Wonosobo Gembleng 3 Desa Melek Data |
|
|---|
| Sukses Sedot 350 Ribu Turis Lewat Festival Balon, Wonosobo Legalkan Puluhan Grup Seni |
|
|---|
| Guru Ketahuan Ngonten Bakal Ditegur, Pemkab Wonosobo Resmi Batasi Main HP di Sekolah |
|
|---|
| Wamentan Pamer Setop Impor Beras di Ajang Kontes Sapi Raksasa Wonosobo |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/20260509-layanan-kesehatan-tradisional-rsku-wonosobo.jpg)