Kamis, 7 Mei 2026

Wonosobo

Gempuran Inggris Geger Sepehi 1812 Bukti Sultan HB II Layak Jadi Pahlawan

Pemkab Wonosobo gelar audiensi usulan Sri Sultan HB II sebagai Pahlawan Nasional, Rabu (6/5/2026). Naskah lintas bahasa mulai disusun.

Tayang:
Penulis: Imah Masitoh | Editor: Daniel Ari Purnomo
Tribun Banyumas/Imah Masitoh
AUDIENSI GELAR PAHLAWAN - Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat, saat memimpin rapat audiensi pengusulan gelar Pahlawan Nasional untuk Sri Sultan Hamengkubuwono II di Ruang Perundingan Pemkab Wonosobo, Rabu (6/5/2026). Pertemuan strategis ini melibatkan perwakilan trah Sultan, dinas terkait, dan utusan Keraton Yogyakarta guna mematangkan syarat administrasi. 

Ringkasan Berita:
  • Pemkab Wonosobo menggelar audiensi bersama trah Sultan dan Keraton Yogyakarta, Rabu (6/5/2026).
  • Pertemuan ini membahas progres pengusulan Sri Sultan HB II sebagai Pahlawan Nasional.
  • Naskah akademik disusun dengan menerjemahkan arsip berbahasa Belanda, Prancis, hingga Jawa.
  • Sultan HB II lahir di Sindoro dan merekrut prajurit perempuan dari Muntilan hingga Wonosobo.
  • Kegigihan melawan Inggris pada Geger Sepehi 1812 jadi landasan kuat usulan gelar pahlawan.

TRIBUNBANYUMAS.COM, WONOSOBO - Proses pengusulan Sri Sultan Hamengkubuwono II (Sultan HB II) sebagai Pahlawan Nasional dari daerah Jawa Tengah terus berjalan maju.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wonosobo kembali membuka audiensi bersama sejumlah pihak terkait, termasuk keluarga trah Sultan, guna memperkuat aspek administratif dan rekam historis, pada Rabu (6/5/2026).

Audiensi yang berlangsung di Ruang Perundingan tersebut dihadiri oleh berbagai unsur pemerintah desa, perwakilan keluarga Sultan HB II, dinas terkait, serta utusan resmi dari Keraton Yogyakarta.

Baca juga: Gubernur Luthfi Tawarkan Potensi Investasi di Jawa Tengah kepada Kerabat Sultan Brunei

Forum ini menjadi bagian sangat penting dalam menyatukan berbagai perspektif sebelum berkas pengajuan dilanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi.

Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat, dalam kesempatan tersebut secara tegas menekankan pentingnya ketelitian dalam setiap tahapan pengusulan gelar kehormatan ini.

"Tahapan pengusulan dari tingkat kabupaten harus benar-benar ditelaah oleh dinas terkait. Ini penting agar saat naik ke tingkat Provinsi dan Pusat, dokumen kita sudah solid," ujar Afif memberikan arahan.

Upaya pengusulan ini sejatinya bukan hal baru. Sejak tahun 2024, berbagai kegiatan pendukung telah gencar dilakukan oleh pemkab. Termasuk di antaranya penyelenggaraan seminar nasional pada awal tahun 2026 yang bertujuan memperkuat landasan akademik dan historis sang tokoh.

Dalam pertemuan tersebut, Prof. Djoko Marihandono menjelaskan lebih detail mengenai perkembangan naskah akademik yang menjadi dokumen utama pengusulan yang sedang disusunnya.

Ia mengakui tingginya kompleksitas penyusunan naskah tersebut yang melibatkan pembacaan berbagai sumber sejarah lintas bahasa.

"Memang di dokumen, khususnya naskah akademik, butuh koreksi. Ada ratusan naskah yang jika disertakan lengkap, satu naskahnya saja bisa lebih dari 250 halaman dalam berbagai bahasa, mulai dari Belanda, Prancis, hingga Inggris," ungkap Prof. Djoko usai forum berlangsung.

Ia juga menyoroti bahwa tantangan terbesar para akademisi saat ini berasal dari sumber literatur kuno berbahasa Jawa yang ditulis dengan aksara tradisional. Meski demikian, progres penyusunan dokumen tersebut diklaim telah mencapai tahap akhir.

"Tinggal melengkapi syarat administrasi lain seperti tanda tangan dari perwakilan putra Sultan HB II dan memperjelas hubungan historis antara Pagerejo atau Wonosobo dengan Keraton Yogyakarta dari masa ke masa," imbuhnya merinci.

Dukungan penuh juga datang dari pihak internal keraton. Perwakilannya, Artha Pararta Dharma, menyatakan kesiapan keraton untuk membantu membuka brankas arsip sejarah guna melengkapi kebutuhan administrasi.

"Salah satu yang dibutuhkan adalah membuka arsip Keraton Yogyakarta untuk mendata nama-nama keturunan Sultan HB II guna melengkapi persyaratan administrasi. Selain itu, situs-situs terkait juga akan diteliti lagi," jelas Romo Artha.

Selain itu, dukungan secara moril turut mengalir dari Gusti Condro, putri langsung dari Sri Sultan Hamengkubuwono X, yang menyatakan komitmen besarnya dalam mendukung proses pengusulan gelar pahlawan tersebut.

Sumber: Tribun Banyumas
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved