Sabtu, 9 Mei 2026

Soroti Tren Ngopi Manis di Kafe, Dinkes Jateng Hadiri Sumpah Dokter

FK Unissula melantik 77 dokter baru, Sabtu (9/5). Dinkes Jateng soroti kurangnya rasio dokter hingga tren ngopi manis pemicu diabetes.

Tayang:
Tribun Banyumas/Franciskus Ariel Setiaputra
SUMPAH DOKTER BARU - Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) menggelar acara prosesi pelantikan dan pengambilan sumpah dokter ke-135 kepada 77 lulusan dokter baru di Semarang, Sabtu (9/5/2026). 

Ringkasan Berita:
  • FK Unissula melantik 77 dokter baru, dua di antaranya absen karena beribadah haji.
  • dr. Laily Rezky Amaliah raih IPK 3,83 dan dr. Dede Guscella catat nilai UKNPDPD tertinggi.
  • Kuota maba FK Unissula terisi penuh dengan 40 persen dari jalur prestasi dan hafiz 30 juz.
  • Rasio dokter Jateng di angka 0,45 per 1.000 penduduk, masih jauh di bawah standar WHO.
  • Dinkes Jateng ingatkan gaya hidup anak muda yang gemar ngopi manis tingkatkan risiko diabetes.

TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) kembali melantik puluhan dokter baru dalam acara sumpah dokter ke-135, Sabtu (9/5/2026).

Sebanyak 77 lulusan mengikuti prosesi sumpah dokter tersebut, meski dua di antaranya berhalangan hadir karena sedang menjalankan ibadah haji, sehingga peserta yang hadir langsung berjumlah 75 orang.

Turut hadir dalam kesempatan istimewa ini Rektor Unissula, Prof Dr H Gunarto, SH, M.Hum, serta perwakilan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, yakni Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan, dr Elhamangto Zuhdan.

Baca juga: Bapak-bapak Takut Ketahuan Sakit, Bupati Kendal Gelar Dokter Keliling

Dekan FK Unissula, dr. Eko Setiawan, Sp. B mengatakan, saat ini FK Unissula terus berkembang pesat dengan memiliki enam program studi mulai jenjang sarjana hingga doktoral dan spesialis.

“Fakultas Kedokteran Unissula sekarang sudah punya enam program studi. Tidak hanya Program Studi Kedokteran dan Pendidikan Profesi Dokter, tetapi juga Magister Ilmu Biomedik, Doktor Ilmu Biomedis, Pendidikan Dokter Spesialis Ilmu Penyakit Dalam, serta Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat” kata dia saat ditemui.

FK Unissula saat ini juga tengah mengembangkan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Bedah guna menjawab kebutuhan tenaga dokter spesialis di Indonesia yang masih terbilang minim.

“Tantangan kedokteran saat ini harus mengikuti perkembangan zaman dan teknologi. Selain itu kebutuhan dokter spesialis juga masih kurang. Bahkan untuk spesialis bedah, dari hitungan kebutuhan saat ini bisa sampai 17 tahun baru terpenuhi jika jumlah programnya tidak ditambah,” jelasnya.

Ia menambahkan, pemerintah saat ini sangat mendorong fakultas kedokteran untuk membuka lebih banyak program spesialis agar kebutuhan tenaga kesehatan dapat segera terpenuhi secara merata.

“Kuotanya 250 mahasiswa dan sekarang sudah penuh. Animonya sekitar tiga banding satu,” katanya.

FK Unissula juga membuka jalur prestasi yang porsinya cukup besar bagi para calon mahasiswa. Sekitar 40 hingga 50 persen mahasiswa diterima melalui jalur prestasi ini dengan berbagai tawaran keringanan biaya pendidikan.

“Kami juga punya beasiswa untuk hafiz 30 juz,” tambahnya.

Ia menyebut rasio dokter umum di Jawa Tengah hingga akhir 2025 baru mencapai angka 0,45 dokter per 1.000 penduduk. Angka tersebut masih berada jauh di bawah standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menargetkan satu dokter untuk setiap 1.000 penduduk.

“Dari hasil statistik ini, Jawa Tengah masih sangat membutuhkan dokter,” ujarnya.

Menurutnya, tantangan dunia kesehatan saat ini semakin kompleks, mulai dari penanganan penyakit menular, penyakit tidak menular, hingga pesatnya perkembangan teknologi kesehatan berbasis artificial intelligence (AI) dan robotik.

“Kita belajar banyak dari Covid-19 tentang bagaimana menangani penyakit yang sebelumnya tidak pernah kita duga. Mulai dari social distancing, karantina, hingga lockdown menjadi pengalaman penting bagi dunia kesehatan,” katanya.

Selain itu, tren penyakit tidak menular seperti diabetes dan serangan jantung juga dirasa semakin meningkat akibat gaya dan pola hidup masyarakat masa kini yang kurang sehat.

“Hari ini kita melihat anak-anak muda setiap malam di kafe minum kopi yang pahit tapi ingin rasanya manis. Gula ditambah terus dan itu meningkatkan risiko penyakit tidak menular,” ujarnya memungkasi.

 

Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved