Kamis, 11 Juni 2026

Berita Banyumas

Tradisi Njenang Banyumas Saat Hajatan, Bikin Lengket Persaudaraan

Njenang menjadi ruang berkumpul yang mempererat hubungan antarsesama baik keluarga dan tetangga menjelang hajatan.

Tayang:
Tribun Banyumas/Permata Putra Sejati
TRADISI NJENANG - Suasana warga saat mengaduk dalam proses pembuatan jenang jelang hajatan, Rabu (10/6/2026). Tradisi njenang atau memasak jenang secara gotong royong masih bertahan dan menjadi ruang berkumpul yang mempererat hubungan antarsesama menjelang hajatan. 


Satu Jadi berdiameter sekitar 1,5 meter mampu menampung hingga 60 kilogram adonan. 


Sementara ukuran yang lebih kecil dapat menampung sekitar 35 kilogram.


"Jadi yang besar itu muat sampai 60 kilo. 


Yang kecil sekitar 35 kilo. Untuk sewa Jadi seratus ribu per buah, saya sewa dua," ujarnya.


Kasdi menjelaskan, satu kali produksi menggunakan Jadi besar membutuhkan sekitar 250 butir kelapa untuk santan, 55 kilogram gula merah, dan 15 kilogram beras ketan.


Sementara untuk Jadi berukuran lebih kecil dibutuhkan sekitar 200 butir kelapa dan 28 kilogram gula merah.


Menurutnya, tradisi njenang masih dapat ditemukan di Desa Dawuhan, terutama saat hajatan pernikahan dan khitanan. 


Namun jumlahnya terus berkurang dibandingkan beberapa dekade lalu.


"Di Dawuhan khususnya, atau Kecamatan Banyumas, dulu masih banyak yang njenang kalau ada hajatan nikahan atau sunatan. 


Tapi sekarang sudah jarang," katanya.


Bagi Kasdi, tradisi tersebut jauh lebih berarti daripada sekadar menghasilkan makanan untuk para tamu.

Baca juga: Kadus di Purbalingga Tewas Dibacok saat Berkebun, Pelaku Tertangkap


Njenang menjadi ruang berkumpul, berbagi cerita, sekaligus memperkuat hubungan sosial yang selama ini menjadi kekuatan masyarakat desa.


Budayawan Banyumas, Deskart Sotyo Djatmiko, berpandangan jenang Banyumas merupakan produk pangan yang lahir dari kekayaan bahan baku lokal serta teknologi kuliner khas Banyumas.


"Apabila dilihat dari budaya sebagai budi daya manusia, jenang merupakan produk makanan yang secara keseluruhan menggunakan bahan baku dan teknologi kuliner lokal Banyumas, seperti kelapa, santan, beras dan ketan," terangnya. 


Persebaran budaya njenang di Kabupaten Banyumas dan wilayah sekitarnya mengikuti ketersediaan bahan baku utama pembuat jenang.


"Persebarannya mengikuti sumber bahan baku yang tersedia. 


Bahan baku tersebut banyak dijumpai di wilayah selatan Kabupaten Banyumas atau sekitar lereng barat hingga timur Gunung Slamet, di mana pohon kelapa dan persawah tumbuh subur," terangnya.

Filosofi

Lebih jauh, ia menilai jenang tidak hanya memiliki nilai kuliner, tetapi juga mengandung filosofi mendalam tentang keakraban dan persaudaraan.


"Secara filosofi karena sifat makanannya yang lengket dan diproses selama delapan sampai sepuluh jam, sampai jadi, maka jenang melambangkan keakraban dan kelekatan peseduluran, baik dalam proses pembuatan maupun makna filosofinya," katanya.


Filosofi tersebut tercermin dalam berbagai hajatan masyarakat Banyumas


Jenang disuguhkan kepada keluarga, tamu, maupun tetangga yang datang sebagai simbol harapan agar hubungan persaudaraan tetap erat dan harmonis.


"Jenang biasa disuguhkan pada berbagai perhelatan pesta di Banyumas, dengan filosofi kelekatan persaudaraan antara para saudara maupun para tamu dan tetangga yang datang. 


Diharapkan akan terus ada kelekatan persatuan persaudaraan di antara mereka," jelasnya.


Meski tradisi njenang untuk hajatan semakin berkurang, Deskart menilai keberadaan jenang Banyumas masih terus hidup melalui industri rumahan.


Salah satu sentranya berada di Desa Limpakuwus, Kecamatan Sumbang. 


Di sana, sejumlah perajin memproduksi jenang baik berdasarkan pesanan maupun secara rutin setiap hari.


"Kebanyakan sekarang industri, besar ataupun skala rumahan, seperti di Limpakuwus, Sumbang, ada yang bikin sesuai pesanan ada yang produksi harian. 


Produk mereka masuk ke pasar tradisional sekitar Kota Purwokerto, seperti Pasar Manis dan Pasar Wage," tutupnya. 


Di tengah gaya hidup yang serba praktis, tradisi njenang di Desa Dawuhan menjadi pengingat ada nilai yang tidak bisa dibeli dari makanan jadi. 


Bukan hanya soal rasa manis jenang yang tersaji di meja hajatan, melainkan juga tentang waktu, tenaga, dan kebersamaan yang membuat hubungan antarmanusia tetap lengket seperti adonan yang terus diaduk sejak pagi hingga malam. (jti) 

 

Sumber: Tribun Banyumas
Halaman 4/4
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved