Berita Banyumas
Tradisi Njenang Banyumas Saat Hajatan, Bikin Lengket Persaudaraan
Njenang menjadi ruang berkumpul yang mempererat hubungan antarsesama baik keluarga dan tetangga menjelang hajatan.
Penulis: Permata Putra Sejati | Editor: khoirul muzaki
Biasanya dimulai sekitar pukul 08.00 WIB dan baru selesai menjelang magrib bahkan hingga malam hari.
Ada pula yang memulai proses memasak sejak malam atau dini hari.
Bagi warga, lamanya waktu memasak menentukan kualitas jenang yang dihasilkan.
Jenang yang dimasak terlalu cepat dipercaya lebih mudah berjamur.
Sebaliknya, jenang yang dimasak hingga benar-benar tanek atau matang sempurna dapat bertahan hingga dua pekan.
Meski perkembangan teknologi telah membantu beberapa tahapan produksi, seperti penggunaan mesin penggiling kelapa dan pembuat tepung, proses memasak tetap mengandalkan tenaga manusia.
Sekitar 10 hingga 15 orang harus bergantian mengaduk adonan yang semakin berat seiring mengentalnya jenang.
Kaum bapak biasanya bertugas mengaduk adonan dan menjaga api tungku.
Sementara para ibu menyiapkan bahan serta memasak konsumsi bagi warga yang membantu.
Anak-anak muda yang pulang sekolah pun kerap ikut bergabung meramaikan suasana.
Kasdi mengatakan dirinya sengaja memilih membuat jenang sendiri karena lebih hemat sekaligus sebagai upaya mempertahankan tradisi masyarakat Banyumas.
"Kalau beli satu kuintal bisa Rp3,5 juta.
Kalau bikin sendiri sekitar Rp3 juta bisa dapat dua kuintal, bahkan lebih.
Soalnya kelapa tidak beli, gula merah bikin sendiri karena saya penderes, beras juga ada sumbangan dari saudara," imbuhnya.
Untuk memasak jenang, Kasdi menyewa dua buah Jadi milik tetangganya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/tradisi-njenang-banyumas.jpg)