Berita Banyumas
Tradisi Njenang Banyumas Saat Hajatan, Bikin Lengket Persaudaraan
Njenang menjadi ruang berkumpul yang mempererat hubungan antarsesama baik keluarga dan tetangga menjelang hajatan.
Penulis: Permata Putra Sejati | Editor: khoirul muzaki
Momen silaturahmi
Menurut Ratum, alasan utama warga tetap terlibat dalam proses tersebut bukan karena imbalan, melainkan menjaga hubungan sosial antartetangga dan keluarga besar.
"Senang ikut njenang karena bisa silaturahmi. Sebagai tetangga harus saling membantu dan gotong royong," ungkapnya.
Mayoritas warga di Desa Dawuhan bekerja sebagai petani, penderes, maupun tukang.
Kondisi tersebut membuat mereka masih memiliki waktu yang relatif fleksibel terlibat dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan.
Mereka datang membantu tanpa menerima bayaran.
Semangat kekeluargaan menjadi alasan utama yang membuat tradisi ini tetap hidup hingga sekarang.
Sebelum memasak dimulai, warga terlebih dahulu menggelar doa bersama.
Tradisi tersebut dilakukan untuk memohon keselamatan sekaligus kelancaran selama proses memasak yang memakan waktu berjam-jam.
Setelah doa selesai, rangkaian pekerjaan panjang pun dimulai.
Bumbu berupa bawang merah, bawang putih, terasi, garam, jahe, dan asam jawa lebih dahulu ditumis dalam Jadi.
Setelah itu santan kelapa dimasukkan dan terus diaduk hingga mengeluarkan minyak.
Tahap berikutnya adalah memasukkan gula merah hingga larut sempurna.
Setelah itu adonan dicampur tepung beras yang telah dilarutkan, lalu ditambahkan beras ketan sebagai bahan utama pembentuk tekstur jenang.
Proses memasak memakan waktu sangat lama, antara delapan hingga sepuluh jam.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/tradisi-njenang-banyumas.jpg)