Berita Banyumas
Tradisi Njenang Banyumas Saat Hajatan, Bikin Lengket Persaudaraan
Njenang menjadi ruang berkumpul yang mempererat hubungan antarsesama baik keluarga dan tetangga menjelang hajatan.
Penulis: Permata Putra Sejati | Editor: khoirul muzaki
TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO - Asap tipis mengepul dari tungku kayu di halaman sebuah rumah di Desa Dawuhan, Kecamatan Banyumas.
Di bawah naungan tarub yang baru berdiri, puluhan warga sibuk dengan tugasnya masing-masing.
Ada yang memarut kelapa, menyiapkan bahan masakan, memasak konsumsi, hingga bergantian mengaduk adonan jenang.
Adonan itu berada dalam wajan tembaga raksasa yang oleh warga sering disebut "Jadi".
Di sela kepulan asap dan aroma santan yang menguar, tawa serta obrolan warga mengalir membicarakan calon manten.
Pemandangan seperti ini sepertinya kini mulai jarang ditemui.
Namun di Desa Dawuhan, tradisi njenang atau memasak jenang secara gotong royong masih bertahan.
Njenang menjadi ruang berkumpul yang mempererat hubungan antarsesama baik keluarga dan tetangga menjelang hajatan.
Tradisi tersebut tampak saat keluarga Kasdi (55) menggelar persiapan pernikahan putri keduanya.
Alih-alih membeli jenang siap saji seperti kebanyakan masyarakat saat ini, ia memilih membuatnya sendiri bersama warga sekitar.
Bagi masyarakat Desa Dawuhan, jenang bukan sekadar hidangan pelengkap pesta.
Di balik proses memasaknya yang panjang, tersimpan nilai kebersamaan yang diwariskan turun-temurun.
Salah seorang warga, Ratum (57), mengaku masih rutin membantu ketika ada tetangga yang menggelar hajatan dan memilih membuat jenang sendiri.
"Dulu sering, sekarang jarang-jarang yang njenang, karena kebanyakan lebih memilih beli yang sudah jadi dana praktis.
Tapi kalau sekarang ada tetangga njenang ya ikut membantu," ujarnya kepada Tribunbanyumas.com, Rabu (10/6/2026).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/tradisi-njenang-banyumas.jpg)