Rabu, 29 April 2026

Purbalingga

Sejarah Masjid Cheng Ho Purbalingga, Bukti Nyata Impian Mualaf

Berdiri megah di Jalan Raya Purbalingga-Bobotsari, Masjid Muhammad Cheng Ho curi perhatian warga lewat arsitektur bergaya kelenteng Tionghoa.

Tribun Banyumas/Fajar Bahruddin Achmad
ARSITEKTUR GAYA CHINA: Penampakan kemegahan Masjid Muhammad Cheng Ho yang terletak di Jalan Raya Purbalingga-Bobotsari KM 8, Desa Selaganggeng, Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga, Kamis (26/2/2026). Masjid berdesain menyerupai bangunan kelenteng ini diprakarsai oleh seorang mualaf keturunan Tionghoa pada tahun 2005 silam. 

Untung melanjutkan, pembangunan resmi dimulai saat momen peletakan batu pertama pada 20 Maret 2005 silam.

Momen tersebut bertepatan dengan tanggal 20 Safar 1426 Hijriah dan 38 hari menjelang perayaan Tahun Baru Imlek 2556. Tetapi kemudian, laju pembangunan sempat terhenti akibat kurangnya ketersediaan anggaran pada tahun 2007.

"Tahun 2010 dilanjutkan lagi, atas jasa seorang muslim dermawan dari Pekalongan," ujarnya mengenang masa sulit tersebut.

Menurut Untung, muslim dermawan yang ikhlas membantu kelanjutan pembangunan itu bernama H. Achmad Zaky Arslan. Pengusaha asal Pekalongan tersebut sering bolak-balik melintasi jalur Purbalingga karena urusan bisnisnya.

Suatu ketika, ia berhenti di depan proyek masjid dan bertanya kepada warga gedung tersebut akan dibangun apa, sekitar tahun 2009.

"Dua kali pertemuan langsung deal untuk melanjutkan pembangunan. Alhamdulillah, kurang lebih setahun masjid jadi dan diresmikan tahun 2011," jelasnya bersyukur.

Pilih Nama Legendaris

Untung mengatakan, daftar calon nama saat masjid tersebut hampir jadi sebenarnya sangat banyak.

Bahkan, sempat muncul usulan untuk memasukkan unsur nama sang donatur asal Pekalongan tersebut. Tetapi atas saran bijak dari H. Achmad Zaky Arslan, nama masjid tetap difokuskan pada tokoh muslim keturunan Tionghoa.

"Akhirnya kami mengambil tokoh legendaris keturunan Tionghoa yang juga seorang pelaut, yakni Laksamana Cheng Ho," katanya.

Untung menambahkan, saat ini Masjid Muhammad Cheng Ho telah menjelma menjadi tempat ibadah yang ramai dikunjungi masyarakat luas dari berbagai daerah. Segala kegiatan keagamaan di dalam masjid pun berjalan dengan sangat makmur.

Saat memasuki bulan suci Ramadan, terdapat berbagai kegiatan syiar, mulai dari pengajian, tadarus Al-Qur'an, hingga pembagian takjil gratis bagi para musafir.

"Kami juga menggandeng organisasi Islam seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah untuk turut mengisi kegiatan ceramah dan pengajian," ungkapnya memungkasi. (fba)

Sumber: Tribun Banyumas
Halaman 2/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved