Purbalingga
Sejarah Masjid Cheng Ho Purbalingga, Bukti Nyata Impian Mualaf
Berdiri megah di Jalan Raya Purbalingga-Bobotsari, Masjid Muhammad Cheng Ho curi perhatian warga lewat arsitektur bergaya kelenteng Tionghoa.
Penulis: Fajar Bahruddin Achmad | Editor: Daniel Ari Purnomo
Ringkasan Berita:
- Masjid Muhammad Cheng Ho di Kecamatan Mrebet, Purbalingga, memiliki desain unik menyerupai bangunan kelenteng dengan dominasi warna merah.
- Pembangunan masjid diprakarsai oleh Herry Susetyo, seorang mualaf keturunan Tionghoa, yang bermimpi mendapat petuah dari sesepuh.
- Sempat terhenti karena kendala biaya di tahun 2007, proyek ini akhirnya rampung berkat bantuan donatur asal Pekalongan dan diresmikan pada 2011 silam.
TRIBUNBANYUMAS.COM, PURBALINGGA - Sebuah bangunan bergaya arsitektur China berdiri megah di Jalan Raya Purbalingga-Bobotsari KM 8, tepatnya di Desa Selaganggeng, Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga.
Sekilas, bangunan tersebut sangat mirip seperti kelenteng yang menjadi tempat ibadah bagi warga keturunan Tionghoa.
Bangunan tersebut didominasi oleh warna merah terang dan dipenuhi dengan berbagai ornamen serta lampion khas Tionghoa. Namun rupanya, bangunan megah tersebut adalah sebuah tempat ibadah umat Islam yang diberi nama Masjid Muhammad Cheng Ho.
Baca juga: Ngabuburit Produktif di Masjid Soedirman Purwokerto:Sajikan Kajian Tematik dan 450 Porsi Buka Gratis
Mirip Bangunan Kelenteng
Bagian atap bangunan yang menyerupai pagoda dibentuk memiliki tiga lapis sebagai bentuk akulturasi yang indah dengan budaya Jawa.
Jendela yang menyerupai jaring sarang laba-laba yang sering menjadi simbol keberuntungan orang Tionghoa, sebenarnya merupakan ukiran kaligrafi Arab. Kemudian, di papan nama Masjid Muhammad Cheng Ho juga disematkan tulisan menggunakan aksara Hanzi.
Diketahui, masjid berdesain unik dan sarat makna tersebut saat ini sudah genap berusia 15 tahun.
"Masjid ini bagus dan unik. Memiliki arsitektur bergaya China," kata Dwi Widodo (39), seorang warga pelintas yang mampir menunaikan salat Zuhur kepada Tribunbanyumas.com, Kamis (26/2/2026).
Dwi mengatakan, ia sudah beberapa kali sengaja mampir untuk menunaikan ibadah di Masjid Muhammad Cheng Ho. Menurutnya, selain bentuknya yang unik, suasana di bagian dalam masjid juga terasa sangat adem.
"Di sini nyaman, kemudian juga bersih. Membuat jadi betah berlama-lama," ungkapnya memuji.
Prakarsa Seorang Mualaf
Ketua Takmir Masjid, Untung Supardjo (83) bercerita, prakarsa pertama berdirinya Masjid Muhammad Cheng Ho ini datang dari seorang warga keturunan Tionghoa yang memutuskan menjadi mualaf.
Pria tersebut adalah warga asli Purbalingga bernama Herry Susetyo, atau yang memiliki nama lahir Thio Hwa Kong.
Pada tahun 2003, Herry menjadi mualaf sekaligus didapuk sebagai Ketua Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Purbalingga.
"Akhir 2003 dia datang ke sini, menyampaikan keinginan lamanya, setelah masuk Islam mau ngapain, masa tidak membawa misi," kata Untung yang juga merupakan salah satu perintis Masjid Muhammad Cheng Ho.
Untung mengatakan, suatu malam, Herry bermimpi mendapatkan petuah dari seorang sesepuh China yang hidup di era penjajahan Belanda, bernama KH Tan Chi Min. Dalam mimpinya, Herry mendapatkan amanat agar membangun masjid dengan corak khas China.
"Saat itu dia tidak punya kemampuan, tapi dia datang ke saya. Akhirnya saat itu dibuat perencanaan pembangunan masjid," ungkapnya.
Bantuan Donatur Dermawan
| Nazar Sembuh Cedera, Tukang Siomay Mudik Jalan Kaki Cilacap-Pemalang |
|
|---|
| Kunker ke Purbalingga, Menkes Puji Program Digitalisasi SPHERES |
|
|---|
| Cuaca Ekstrem Purbalingga, Pohon Tumbang Sempat Tutup Jalan |
|
|---|
| Kitab Irsyadul Awam, Warisan Ulama Kharismatik Kiai Hisyam Purbalingga |
|
|---|
| Sosok Donatur Masjid Cheng Ho Purbalingga, Kucurkan Dana Miliaran |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/20260226-purbalingga-masjid-cheng-ho.jpg)