Jumat, 8 Mei 2026

Banyumas

Latihan Angkat Ransel Dikira Daftar TNI, Siswa SMK di Banyumas Taklukkan 5 Gunung

Satria Nuryansah (18), siswa SMK di Sumpiuh, Banyumas, membagikan kisah inspiratifnya usai sukses menaklukkan lima gunung tertinggi di Jawa Tengah.

Tayang:
Penulis: daniel a | Editor: Daniel Ari Purnomo
DOKUMENTASI PRIBADI
PENAKLUK LIMA GUNUNG - Satria Nuryansah (18) alias Mas Gilang, siswa SMK Ma'arif NU 1 Sumpiuh, Kabupaten Banyumas, saat berpose di salah satu puncak gunung. Bermodal tabungan uang saku, ia sukses menaklukkan lima gunung tertinggi di Jawa Tengah. 

Ringkasan Berita:
  • Satria Nuryansah (18) alias Mas Gilang, siswa SMK Ma'arif NU 1 Sumpiuh, berhasil menaklukkan lima puncak tertinggi di Jawa Tengah.
  • Kelima gunung yang berhasil ia daki adalah Gunung Slamet, Sumbing, Sindoro, Lawu, dan Merbabu.
  • Pendakiannya didanai dari hasil menyisihkan uang saku dan restu orang tua yang berpesan agar tidak ceroboh di alam.
  • Satria rutin berlatih fisik di bukit lokal hingga kerap dikira warga sedang berlatih untuk mendaftar seleksi TNI.

TRIBUNBANYUMAS.COM, BANYUMAS - Satria Nuryansah (18), seorang remaja asal Kabupaten Banyumas, berhasil menorehkan prestasi membanggakan di dunia pendakian.

Pelajar yang kini duduk di bangku SMK Maarif NU 1 Sumpiuh tersebut sukses menggapai lima puncak gunung tertinggi di Provinsi Jawa Tengah dalam kurun waktu kurang dari setahun.

Pencapaian luar biasa ini bukan sekadar mengandalkan kekuatan fisik semata, melainkan juga tekad baja seorang pelajar muda untuk menaklukkan kerasnya alam liar.

Baca juga: Balita 1,5 Tahun Dikabarkan Hipotermia saat Naik Gunung Ungaran dengan Orangtua, Begini Kronologinya

Asal Usul Julukan

Di kalangan komunitas pendaki lokal, Satria lebih akrab disapa dengan panggilan "Mas Gilang".

Uniknya, ada kejadian lucu di balik sematan nama panggung tersebut hingga akhirnya melekat erat.

Nama itu pertama kali dicetuskan oleh teman dekatnya yang memelesetkan kata menjadi "Gilandangan" atau gelandangan.

Hal ini lantaran Satria dulu jarang pulang ke rumah dan lebih sering menumpang menginap di rumah teman-temannya.

Meski jadwal sekolah kejuruan cukup padat, hobi mendaki yang mulai ia tekuni sejak duduk di kelas 10 SMA ini terus dikembangkan secara konsisten.

Modal Uang Saku

Untuk mendanai lima pendakian besarnya tersebut, Satria harus pandai berhemat.

Ia rutin menabung dari sisa uang sakunya demi bisa membeli berbagai perlengkapan pendakian.

Sesekali, ia juga meminta tambahan dana kepada sang ibu jika memang kebutuhannya mendesak.

Beruntung, kedua orang tuanya tidak pernah melarang keras hobi ekstrem sang anak.

Mereka hanya memberikan satu pesan singkat namun bermakna agar Satria selalu berhati-hati dan waspada terhadap alam liar dengan pepatah Jawa, "ojo sembrono" (jangan ceroboh).

Latihan Fisik Ekstra

Demi mempersiapkan ketahanan fisik sebelum menghadapi jalur pendakian yang curam, Satria rutin melakukan pemanasan berupa lari dan pendakian ringan sambil membawa ransel beban.

Bukit Mahameru dan Bukit Jatisewit di sekitar Banyumas menjadi saksi bisu kerasnya latihan fisik Satria.

Sumber: Tribun Banyumas
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved