Berita Purbalingga
Perkebunan Kelapa di Purbalingga Kering Diserang Ulat, Dispertan Ingatkan Pentingnya Pengendali Hama
Pohon kelapa di sejumlah daerah di Purbalingga mengering diserang ulat. Dispertan berharap petani dan koperasi memiliki alat pengendali hama.
Penulis: Farah Anis Rahmawati | Editor: rika irawati
TRIBUNBANYUMAS.COM, PURBALINGGA – Dinas Pertanian Kabupaten Purbalingga menekankan pentingnya petani, koperasi, maupun perusahaan pengelola gula kelapa memiliki alat pengendalian hama.
Hal ini menyusul serangan ulat Artona Catoxantha yang kian meluas dan mengancam produksi gula kelapa kristal yang menjadi komoditas ekspor unggulan di Purbalingga.
"Untuk gerakan pengendalian, petani atau koperasi ini ternyata belum memiliki alat pengendali sendiri."
"Meskipun kami memfasilitasi tapi alangkah baiknya, para petani ataupun koperasi itu menyediakan alat pengendalian hama sendiri, tentunya agar proses pengendalian lebih cepat dan tidak terlalu lama menunggu," ujar Endah Wahyuni, Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Dinas Pertanian Purbalingga, Jumat (19/9/2025).
Baca juga: Ulat Artona Catoxantha Serang Pohon Kelapa, Produksi Gula Nira di Purbalingga Terancam
Menurut Endah, saat ini, penanganan serangan hama ulat tersebut baru sebatas penyemprotan manual oleh petani.
Namun, cara ini dinilai berisiko karena penyemprotan dilakukan pada daun kelapa yang cukup tinggi.
Padahal, mayoritas penderes sudah berusia lanjut.
Sementara, Dinpertan Purbalingga masih dalam proses menyiapkan peralatan khusus untuk penyemprotan massal.
Berawal di Karangcegak
Serangan hama ulat ini pertama kali ditemukan di Desa Karangcegak, Kecamatan Kutasari, hingga kemudian meluas ke Meri, Sumingkir, dan Metenggeng.
Cuaca yang tidak menentu, serta siklus hidup hama yang singkat, membuat penyebaran menjadi lebih cepat.
Satu ngengat dewasa bahkan dapat menghasilkan hingga 40 butir telur.
Baca juga: Petanda Apa, Ribuan Wanita di Purbalingga Ramai Gugat Cerai Suami
Endah mengatakna, gejala pohon kelapa yang terserang, dapat dilihat dari daun yang menguning, kering, lalu gugur seperti terbakar hingga tersisa tulang atau lidi.
Kondisi tersebut membuat pohon kehilangan kemampuan berfotosintesis sehingga produksi nira sebagai bahan baku gula kelapa kristal turun drastis.
Endah menegaskan, kepemilikan alat pengendali hama di tingkat petani maupun koperasi akan menjadi aset penting, tidak hanya untuk menghadapi serangan saat ini, tetapi juga untuk pencegahan di masa mendatang. (*)
| Timbun Pertalite dari SPBU di Purbalingga, Warga Banjarnegara Dapat Untung Rp2 Ribu Per Liter |
|
|---|
| Warga Kaligondang Purbalingga Oplos Elpiji Subsidi, Untung Rp10 Juta Per Bulan |
|
|---|
| Tersedak Jelly, Balita di Rembang Purbalingga Meninggal |
|
|---|
| 184 Desa di Purbalingga Ikuti Pilkades Serentak Tahun 2026 Ini |
|
|---|
| Longsor Timpa Rumah di Sangkanayu Purbalingga, 1 Orang Tewas |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/19092025-Pohon-kelapa-di-Bumisari-Purbalingga-mengering-terserang-hama-ulat.jpg)