Berita Kesehatan
Sering Dikira Sama, Ini Perbedaan Cacar Monyet dan Cacar Air: Cek Kelenjar Getah Bening!
ering dianggap sama oleh sebagian orang, berikut perbedaan cacar monyet dan cacar air menurut dokter RS JIH Solo.
TRIBUNBANYUMAS.COM, SOLO - Kasus cacar monyet atau Monkeypox (Mpox) tengah menjadi perhatian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan sejumlah negara, termasuk Indonesia.
Kendati kasus baru belum ditemukan lagi di Indonesia namun satu kasus di Brebes, Jawa Tengah (Jateng), sempat bikin geger.
Seorang pria dikabarkan mengalami Mpox setelah muncul bintik-bintik di kepala.
Namun, dari hasil pemeriksaan, pria tersebut ternyata mengalami cacar air.
Gejala serupa yang muncul pada kasus cacar monyet dan cacar air ini membuat kedua penyakit ini sering dianggap sama oleh sebagian masyarakat.
Lantas, apa sebenarnya Cacar monyet dan Cacar air, serta perbedaannya?
Virus, Gejala, dan Fase
Dokter spesialis Dermatologi Venereologi Estetika, Subspesialis Dermatologi Alergi Imunologi, Rumah Sakit JIH Kota Surakarta, Triasari Oktavriana M.Sc., Sp. DVE., Subsp. DAI mengatakan, kedua penyakit ini disebabkan oleh virus berbeda.
"Cacar monyet atau saat ini dikenal dengan istilah Mpox, penyakit ini disebabkan oleh virus Monkeypox, yang termasuk dalam keluarga Orthopoxvirus, termasuk zoonosis sebelum akhirnya terjadi penularan manusia ke manusia."
"Virus ini lebih jarang terjadi dibandingkan dengan cacar air tapi tetap harus waspada" kata Dokter Sari.
"Kemudian, Cacar air atau varicella, disebabkan oleh virus Varicella-Zoster yang termasuk dalam keluarga Herpesviridae."
"Ini adalah penyakit yang lebih umum terjadi, terutama pada anak-anak," imbuhnya, Jumat (30/8/2024).
Baca juga: Sempat Bikin Geger, Pria Warga Brebes Suspek Mpox Ternyata Kena Cacar Air
Sari menjelaskan, ada beberapa hal yang perlu diketahui dalam upaya membedakan cacar air dan cacar monyet.
Di antaranya, soal inkubasi.
Sari mengatakan, Mpox memiliki masa inkubasi atau masa dimana seseorang mulai terinfeksi hingga muncul gejala, selama 6 hingga 21 hari.
Fase Mpox, katanya, memiliki dua fase, yaitu fase prodromal atau fase invasi dan fase erupsi.
Fase prodromal dapat berlangsung hingga 5 hari, ditandai dengan gejala:
- Demam tinggi hingga 38 derajat celsius,
- Sakit kepala hebat,
- Badan terasa lemas,
- Nyeri punggung dan otot yang disertai pembesaran kelenjar getah bening (area leher, ketiak dan juga lipat paha atau selangkangan).
Sedangkan untuk fase erupsi, dimulai sekitar 1-3 hari setelah demam. Di fase ini terjadi:
- Munculnya ruam kulit berupa bercak kemerahan diawali di area wajah yang secara bertahap menyebar ke area tubuh yan lain, semisal telapak tangan dan kaki, mukosa mulut, genitalia, dan juga selaput mata.
- Bercak merah ini akan diikuti dengan munculnya lenting berair yang dapat berisi nanah, hingga terjadinya keropeng.
- Perkembangan lesi ini akan berlangsung selama 3 minggu hingga seluruh ruam menghilang.
"Pada intinya, gejala khas yang membedakan antara cacar monyet dan cacar air itu adalah didapatkan pembesaran kelenjar getah bening pada cacar monyet."
"Sedangkan pada cacar air, yang khas adalah munculnya ruam berupa lenting yang gatal," katanya.
Media Penularan
Menurut Sari, seseorang dapat menularkan Mpox sejak munculnya lesi hingga rontoknya seluruh keropeng.
Penularan cacar monyet itu dapat terjadi melalui droplet, kontak fisik secara erat, maupun hubungan intim.
Baca juga: Waspada! Kasus Cacar Monyet Mpox Meningkat, WHO Nyatakan Darurat Kesehatan Global
Untuk saat ini, belum tersedia vaksin khusus untuk cacar monyet sehingga kita tetap harus meningkatkan kewaspadaan terkait gejala yang muncul.
Sedangkan untuk cacar air, telah tersedia vaksin varicella yang dikatakannya cukup efektif mencegah.
Untuk meminimalkan risiko penularan Mpox, Sari menyarankan untuk selalu menerapkan pola hidup sehat dan bersih (PHBS), hidari kontak langsung dengan hewan penular Mpox yang diduga terinfeksi.
Kemudian, bagi pelaku perjalanan luar negeri dari wilayah terjangkit Mpox, wajib memeriksakan diri kepada tenaga kesehatan jika muncul gejala dan ruam kulit yang dicurigai sebagai Mpox.
"Perhatian khusus juga harus dilakukan kepada anak-anak dan ibu hamil apabila ada riwayat kontak dengan penderita Mpox," katanya. (Tribunsolo.com/Anang Maruf Bagus Yuniar)
Artikel ini telah tayang di TribunSolo.com dengan judul Wajib Tahu, Ini Perbedaan Cacar Monyet dan Cacar Air.
Baca juga: Kasus Dugaan Perdagangan Orang di Unsoed Purwokerto Dilaporkan ke Polisi, Pelaku Terancam DO
Baca juga: Bocah SD di Semarang Ditendang Anak SMP hingga Tersungkur, Videonya Viral di Media Sosial
| Tak Perlu Khawatir Soal Kabar Merebaknya Superflu: Belum Muncul di Jateng, Bisa Dicegah dan Diobati |
|
|---|
| Kebiasaan Buruk, Berikut Bahaya Duduk Lama di Kloset Sambil Main HP |
|
|---|
| Waspada! Paparan Polusi Udara Dapat Memicu Stroke, Bahkan dalam Waktu Pendek |
|
|---|
| Benarkan Asap Rokok Bisa Sebabkan Anak Alami Bibir Sumbing |
|
|---|
| Tiga Penyakit Paling Banyak Diderita Pasien Pasca-lebaran |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/monkeypox-atau-cacar-monyet.jpg)