Jumat, 8 Mei 2026

Berita Nasional

Ada Potensi Gagal, Perhimpunan Pendidikan dan Guru Minta Program Makan Siang Gratis Tak Ganggu BOS

Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) mewanti-wanti agar pelaksanaan program makan siang gratis tak mengganggu dana BOS.

Tayang:
Editor: rika irawati
FREEPIK/JCSTUDIO
Ilustrasi program makan siang gratis untuk anak sekolah. Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) mewanti-wanti agar pelaksanaan program makan siang gratis milik calon presiden dan calon wakil presiden Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka mendatang tak mengganggu dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). 

TRIBUNBANYUMAS.COM, JAKARTA - Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) mewanti-wanti agar pelaksanaan program makan siang gratis milik calon presiden dan calon wakil presiden Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka mendatang tak mengganggu dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

Mereka pun meminta tim Prabowo-Gibran menjelaskan kepada publik secara detail program tersebut, terutama sumber pendanaan.

Hal ini disampaikan Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang) P2G Feriyansyah.

"Bagi siswa Indonesia, (program makan siang gratis) ini kabar baik karena ada jaminan mereka pasti mendapatkan makan di sekolah."

"Namun, ini adalah janji dari pasangan calon presiden yang belum dinyatakan menang oleh KPU," ungkap Feri, dilansir dari rilis P2G, Minggu (3/3/2024).

Feri mengakui, ada sejumlah negara yang menerapkan makan siang gratis.

Tetapi, tidak menutup kemungkinan, program ini gagal, seperti yang terjadi di Amerika Serikat.

"Di Amerika Serikat, awal tahun 2020, program makan siang gratis di sekolah gagal bukan karena pandemi tapi karena para siswa tidak mengambil jatah makan siang gratis."

"Ternyata, label makan siang gratis hanya untuk orang miskin, membuat anak-anak memilih tidak makan dan program ini ditutup di beberapa sekolah," kata dia berdasarkan data yang dia miliki.

Baca juga: Program Makan Siang Gratis Capres Prabowo Mulai Diakomodasi Pemeritah, Masuk Penyusunan RAPBN 2025

Feri menyatakan, kebijakan ini harus dilakukan secara hati-hati dan mempertimbangkan kondisi lapangan.

Misal, di negara Uni Eropa, penerapannya berbeda-beda.

"Tentunya, ini harus bisa kita hindari jika program ini dijalankan nanti," pesan Feri.

Seperti negara Belanda dan Denmark, keduanya tidak menerapkan makan siang gratis dan tidak masalah untuk mereka.

"Yang menerapkan makan siang gratis, seperti negara Finlandia, Estonia, Swedia, Latvia, dan Lithuania. Namun, masing-masing negara tersebut berbeda pendekatannya," tambahnya.

Ia mencontohkan, di Finlandia, asupan gizi pada makanan pada hari Senin ditambah 20 persen karena anak-anak kurang mendapat gizi di akhir pekan.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved