Senin, 18 Mei 2026

Berita Nasional

Meski tak Pakai Dolar, Nasib Orang Desa Paling Tragis saat Rupiah Melemah

Meski warga desa tak memegang dolar secara fisik, mereka terimbas melemahnya rupiah lewat rantai pasok barang

Tayang:
Editor: khoirul muzaki
Tribun Jateng/Saiful Masum
Ilustrasi petani 

TRIBUNBANYUMAS.COM, Ekonom dari Center of Reform on Economics (Core), Yusuf Rendy Manilet, pernyataan Presiden Prabowo Subianto soal orang desa tak memakai dolar di tengah melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.


Padahal, menurut dia, warga desa justru kelompok yang paling rentan terdampak melemahnya rupiah.

Meski warga desa tak memegang dolar secara fisik, mereka terimbas melemahnya rupiah lewat rantai pasok barang dan jasa sehari-hari.

Misalnya, pupuk urea dan NPK yang jadi kebutuhan pokok petani bahan bakunya impor.

Solar untuk kebutuhan pertanian, serta pakan ternak dari jagung dan bungkil kedelai impor.

Bahan baku aktif obat generik di fasilitas kesehatan yang didapat dari India dan China juga dibayar menggunakan dolar AS.

"Dalam ekonomi modern, dampak kurs bekerja lewat rantai pasok, bukan lewat apakah seseorang memegang dolar atau tidak," kata Yusuf kepada Kontan.co.id, Minggu (17/5/2026).

Baca juga: Sebanyak 1.732 Guru Honorer di Jawa Tengah Tak Masuk Dapodik, Ini kata Dinas Pendidikan!

Lebih lanjut, Yusuf membahas data Badan Pusat Statistik (BPS) soal inflasi pangan bergejolak (volatile food) dan harga yang diatur pemerintah (administered price) yang berpengaruh pada kelompok masyarakat berpendapatan rendah, dibanding kelas menengah perkotaan.

Yusuf menilai, kelompok menengah masih memilki tabungan, kemampuan mengalihkan konsumsi, bahkan ada yang memiliki aset dalam valuta asing.

Ia pun menyinggung ketergantungan Indonesia terhadap impor kedelai, gula mentah, hingga gandum.

Melemahnya rupiah mempengaruhi harga tahu, tempe, mi instan, hingga tepung terigu. 

Lebih jauh, meningkatnya biaya hidup akibat melemahnya rupiah bisa menurunkan daya beli masyarakat, khususnya bagi keluarga menengah.

"Untuk rumah tangga desa dengan pengeluaran Rp2 juta sampai Rp3 juta per bulan, depresiasi rupiah 10 persen bisa menggerus daya beli riil sekitar 3 persen hingga 5 persen dalam beberapa bulan," ungkapnya

Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved