Berita Politik
Kepergian Maruarar Sirait Jadi 'Alarm' PDIP, Pengamat Politik: Jangan Sampai Terjadi Bedol Desa
Kepergian Maruarar 'Ara' Sirait dari PDIP dinilai pengamat politik Universitas Paramadina Ahmad Khoirul Umam sebagai 'alarm' bagi partai tersebut.
TRIBUNBANYUMAS.COM, JAKARTA - Kepergian politisi senior Maruarar 'Ara' Sirait dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dinilai pengamat politik Universitas Paramadina Ahmad Khoirul Umam sebagai 'alarm' bagi partai tersebut.
Jika tak segera mengonsolidasikan internal partai, Umam mengatakan, kepergian Maruarar dapat memicu 'bedol desa' atau migrasi besar-besaran kader PDIP.
Apalagi, Maruarar bukan satu-satunya nama yang memilih berpisah dengan PDIP.
Sebelumnya, dua kader lain PDIP telah hengkang meski berstatus 'dipecat'.
Keduanya adalah Budiman Sudjatmiko dan Wali Kota Medan Bobby Nasution, yang kini mendukung Prabowo-Gibran, alih-alih berpihak ke pasangan Ganjar Pranowo-Mahfud MD yang diusung PDIP.
Dua nama ini juga belum termasuk sosok Jokowi yang kini secara terbuka telah berhadapan dengan PDIP dan Gibran Rakabuming Raka, yang notabene kader PDIP.
"Langkah Maruarar dan Budiman ini harus menjadi peringatan serius bagi PDIP agar tidak terjadi bedol desa lebih lanjut dari para politisi muda PDIP, untuk bergeser ke posisi seberang, khususnya di tim Prabowo-Gibran yang didukung penuh oleh Jokowi," kata Umam, Senin (15/1/2024) malam, dikutip dari Kompas.com.
Baca juga: Pilih Ikut Langkah Jokowi, Politisi Maruarar Sirait Pamit dari PDIP
Umam menuturkan, apabila Maruarar pada akhirnya berlabuh ke pasangan calon yang didukung Jokowi, sang kepala negara pun bisa menganggap menjadi simbol perlawanan kader-kader muda PDIP terhadap elite partai banteng.
Jika itu benar-benar terjadi, Umam menilai, loyalitas mereka kepada Jokowi otomatis telah melunturkan loyalitas kepada ideologi partai yang disemai selama ini.
Karena itu, hengkangnya politikus muda PDIP dianggap akan memberikan dampak psikologis sekaligus menurunkan moril perjuangan dan kepercayaan diri sebagian kader PDIP lainnya.
Terlebih, mereka tengah berupaya mengonsolidasikan infrastruktur pemenangan Ganjar-Mahfud di fase akhir, jelang hari pencoblosan pada 14 Februari 2024.
Untuk itu, Umam menambahkan, penting bagi PDIP segera mengonsolidasikan internalnya agar migrasi besar-besaran kader dapat diantisipasi.
"Supaya migrasi simpul-simpul kekuatan politik PDIP tidak berlanjut maka PDIP harus segera mengonsolidasikan kembali kekuatan kader-kadernya agar tidak mencair karena alasan pragmatisme dan oportunisme," ujarnya.
Terima Pengembalian KTA
Sementara, Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan, Maruarar Sirait telah mengembalikan kartu tanda anggota (KTA) PDIP saat pamit kepada Wakil Sekretaris Jenderal PDIP Utut Adianto dan Wakil Bendahara Umum PDIP Rudianto Tjen, di kantor DPP PDI-P, Menteng, Jakarta Pusat, Senin malam.
Hasto mengatakan, dengan dikembalikannya KTA tersebut, Maruarar secara resmi berpisah dengan PDIP.
"DPP Partai telah menerima laporan dari Pak Utut Adianto bahwa Pak Ara Sirait (Maruarar) telah mengajukan pengunduran diri dengan menyerahkan KTA partai," kata Hasto dalam keterangannya.
Baca juga: Jokowi Absen di HUT PDIP, Peneliti Politik BRIN: Pecah Kongsi Luar Biasa
Hasto menjelaskan, partai politik (parpol) seperti PDIP memegang prinsip dapat menerima kader baru dan merelakan kader yang memilih meninggalkan partai.
Menurut Hasto, dua hal tersebut harus dijalankan parpol atas dasar sukarela.
"Menjadi anggota partai didasarkan pada prinsip kesukarelaan, demikian halnya untuk tidak menjadi anggota dapat mengajukan pengunduran diri," ujarnya.
Ikuti Jejak Jokowi
Sementara, Maruarar Sirait menyatakan mundur dari PDIP, Senin malam.
Hal ini disampaikan Maruarar seusai bertemu Wakil Sekretaris Jenderal PDIP Utut Adianto dan Wakil Bendahara Umum PDIP Rudianto Tjen di kantor DPP PDI-P, Menteng, Jakarta Pusat, Senin malam.
Mantan Ketua Taruna Merah Putih, organisasi sayap PDIP itu turut mengucapkan terima kasih kepada Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri hingga Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto.
"Sesudah saya berdoa dan berdiskusi dengan orang terdekat, teman-teman terdekat, saya memutuskan untuk pamit dari PDI Perjuangan," kata Maruarar kepada wartawan.
Baca juga: Wakil Presiden Maruf Amin Pose Salam Metal Tiga Jari di HUT PDIP, Jokowi Sengaja Tak Diundang
Maruarar mengaku, Jokowi menjadi alasan utamanya memilih angkat kaki dari PDIP.
Ia mundur dari PDIP karena mengikuti langkah Jokowi yang hingga kini masih mendapat dukungan penuh dari masyarakat.
"Saya memilih untuk mengikuti langkah Pak Jokowi karena saya percaya, Pak Jokowi adalah pemimpin yang sangat didukung oleh rakyat Indonesia," tegas dia.
Meski begitu, dia berpesan agar kader lain PDIP tetap loyal kepada partai.
Ia tak ingin, kader lain mengikuti jejaknya karena tak loyal kepada partai.
"Saya mohon maaf. Saya mengajarkan kalian untuk loyal tetap bersama PDI Perjuangan tetapi izinkanlah dengan keterbatasan, saya pamit," katanya. (Kompas.com/Achmad Nasrudin Yahya)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Alarm "Bedol Desa" di Tubuh PDI-P Usai Maruarar Sirait Pilih Mundur".
Terungkap Alasan Pencopotan Bambang Pacul Sebagai Ketua DPD PDI-P Jateng |
![]() |
---|
Tak akan Singkirkan Orang-orang Bambang Pacul, Rudy Ingin PDIP Jateng Solid di Bawah Pimpinan Mega |
![]() |
---|
Gantikan Bambang Pacul, Rudy Tancap Gas Bentuk Pengurus PDIP Jateng Hingga Tingkat Rating |
![]() |
---|
Alih-alih Tunjuk Pj, Masa Jabatan Kepala Daerah Diusulkan Diperpanjang Hingga 2031 Imbas Putusan MK |
![]() |
---|
Hasto Kristiyanto Masih Jabat Sekjen PDIP Usai Vonis 3,5 Tahun Penjara, Jabatan Ditentukan Kongres |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.