Berita Bisnis
Wapada! Badai PHK Diprediksi Masih Menimpa Perusahaan Digital, Dampak Resesi Global
Pendiri maupun CEO perusahaan digital diminta bersiap menghadapi tekanan ekonomi yang lebih besar.
TRIBUNBANYUMAS.COM, JAKARTA - Pendiri maupun CEO perusahaan digital diminta bersiap menghadapi tekanan ekonomi yang lebih besar.
Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira memperkirakan, mereka akan kesulitan mencari pendanaan hingga berimbas terjadinya gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK).
Bhima mengatakan, gelombang PHK masih akan terus terjadi di berbagai perusahaan layanan digital, mulai dari fintech, edutech, dan healtech.
Menurutnya, tahun depan, kondisi ekonomi dengan adanya ancaman resesi global membuat persaingan pencarian dana dari investor semakin ketat.
Baca juga: Korban PHK di Jateng akibat Pandemi Covid Capai 20 Ribu Orang, KSPN: Bakal Bertambah karena PPKM
Baca juga: Didirikan untuk Menampung Pekerja Korban PHK, Bandar Seafood Kudus Kini Bersiap Buka Cabang
Dikatakan Bhima, gelombang PHK di perusahaan digital disebabkan oleh tekanan makro-ekonomi yang cukup berat pascapandemi Covid-19, mulai dari kenaikan inflasi, tren penyesuaian suku bunga, pelemahan daya beli, risiko geopolitik, dan model bisnis yang berubah signifikan.
"Pasca pandemi, awalnya diharapkan akan terjadi kenaikan jumlah user dan profitabilitas layanan yang kontinu."
"Sebaliknya, harapan mulai pupus ketika konsumen, terutama di Indonesia dan negara Asia Tenggara berhadapan dengan naiknya inflasi pangan dan energi sekaligus sehingga mengurangi pembelian barang dan jasa melalui layanan platform digital," ujar Bhima dalam keterangannya, Minggu (20/11).
Bhima menyebut, hampir sebagian besar stratup yang melakukan PHK massal disebut sebagai Pandemic Darling atau perusahaan yang meraup kenaikan Gross Merchandise Values (GMV) selama puncal pandemi 2020-2021.
Karena valuasinya tinggi maka mereka dipersepsikan mudah dalam mencari pendanaan baru.
Faktanya, agresifitas ekspansi perusahaan digital ternyata tidak sebanding dengan pencarian dana baru dari investor.
Baca juga: Pencairan JHT Masih Mengacu Aturan Lama, Buruh Ter-PHK Kini Juga Dapat JKP
Baca juga: Korban PHK Rintis Usaha Potong Rambut di Kota Tegal, Sehari Bisa Dapat 10 Pelanggan
Banyak investor, terutama asing, menjauhi perusahaan dengan valuasi tinggi tapi secara profitabilitas rendah, atau model bisnisnya tidak sustain (berkelanjutan).
Oleh karena itu, fenomena overstaffing atau melakukan rekrutmen secara agresif menjadi salah satu penyebab akhirnya PHK massal terjadi.
Banyak founder dan CEO perusahaan yang over-optimis, ternyata, pascapandemi Covid-19 reda, masyarakat lebih memilih omichannel bahkan secara penuh berbelanja di toko offline (hanya pembayaran pakai digital/mobile banking-transaksi dilakukan manual).
"Akibat overstaffing, biaya operasional membengkak dan menjadi beban kelangsungan perusahaan digital," katanya. (*)
Artikel ini sudah tayang di Kontan.co.id dengan judul Ancaman Resesi Global, Ekonom Ramal Badai PHK Masih Terus Hantam Perusahaan Digital.
Baca juga: Tamansari Resmi Jadi Desa Wisata, Desa Cikal Bakal Banyumas Tempat Hidup Raden Kamandaka
Baca juga: Program Nikah Gratis bagi Difabel Tegal: Erlin-Hasim Bersyukur Tak Mengeluarkan Biaya Sepeser Pun
Baca juga: Cegah Kecelakaan, PT KAI Daop 5 Purwokerto Tutup 30 Perlintasan Sebidang Tak Terjaga
Baca juga: BREAKING NEWS Haedar Nashir Terpilih Kembali Jadi Ketum Muhammadiyah, Sekum Abdul Muti